MY HISTORY

muhlisin-02.jpg

Sepercik Kisah

“Si Muhlis”

Salam ta’dzim teriring do’a dengan segala kemuhlisan yang paling dalam semoga kita semua berkenan untuk menghadirkan harapan do’a pada aku “SI Muhlis” yang sedang bergelantungan menggapai asa…. aku cukup salut dan bangga dengan segala yang ada, ternyata tak salah apa yang sempat terpikir dalam benakku, memang jadi seorang manusia itu harus penuh dengan himmah dan hikmah serta senantiasa mencarinya dimanapun hal itu berada. Konsep akhir dari manusia yang kaya dengan hikmah dan Himmah dialah insan Ulul albab yang didambakan tuk mewujud sebagai modal dasar dalam menunaikan amanah kekhalifahan seorang hamba. Dalam ranah inilah diriku mencoba merefleksikan historisitasku agar mampu menjadi sedikit hikmah bagi diri untuk semakin sadar dan semakin arif dalam menapaki hidup yang penuh himmah. Ma’af sekiranya coretan ini terlalu subyektif dan mungkin penuh dengan bahasa-bahasa yang dramatik dan melahirkan kesan yang kurang berkenan pada siapapun. Namun telah diusahakan seobyektif mungkin dan menyederhanakan bahasa agar dapat dipahami. Semoga Aku lahir dengan nama Muhlisin (080676), entah darimana ortuku menemukan ilham tentang lafadz sederhana dan simple itu dapat diperolehnya. Yang jelas aku lahir dari keluarga desa rendahan (Dusun Lumpangrenteng, RT.01 /RW 0I Desa Kurungrejo Kec. Prambon-Nganjuk). Ortuku bukanlah sosok terpelajar, mereka tidak mengerti apa arti dari lafadz itu sendiri, ortuku tidak pernah paham tentang bahasa arab. Sehingga mereka pun tidak paham mengapa dia harus menamakan bayi nomor empatnya itu dengan lafadz “MUHLISIN”. Manakala dikaji secara lebih cermat ditemukan sebuah ayat qur’an “Wama Umirru illa liya’budullaha muhlisina lahuddinn…” dan manakala takbir hari raya (idul fitri dan Adha) sering didengungkan dalam tarkbiran “ ….. la ila ha illla allahu wala na’budu illa iyyahu muhlisina lahudiina walau karihal kafirun……” Meskipun demikian ortukupun masih juga tidak paham apa maksud dan tujuan memberi nama Muhlisin buat bayinya itu. Sampai akhirnya aku mulai mengerti yang jelas disitu tersirat sebuah symbol pengharapan bahwa sang bayi itu diharapkan bisa menjadi menusia yang “Muhlis” dan bukan “muflis” apalagi mufsidPengalaman —-pada satu sisi—- adalah hal yang patut di acungi jempol, sebab kita telah dituntun sedemikian rupa sehingga mewujud sosok relatrif tangguh seperti sekarang ini, jangan mendustai jujur aja ketika kita kemarin masih bloon dan kita hanya terima wejangan sang alam secara patuh, saat itu potensi diri tersimpan dan terbelenggu secara rapi di relung jasadi dan rohani, cuman mungkin saat ini kita memang sudah waktunya untuk mengaktualkan potensi dan membebaskan diri dari jeratan itu sehingga kita —mungkin —- secara sepihak menyalahkan aspek lingkungan, “yakinilah lingkungan dan segenap kenyataan saudara adalah akan mampu mengajarimu atas segalanya”.Namun taqdir berkata lain Aku dilahirkan dalam sebuah realitas jalanan, sehingga mungkin aku cukup berlawanan dengan realitas kemapanan, keharmonisan dan kesempurnaan apalagi keselarasan, dari dulu aku cukup merindukan bagaimana aku punya seorang ortu yang mampu membimbing dan memacu aku menjadi manusia yang “lebih” Ortuku tiada pernah kenal sekolah oleh karena itulah ia miskin dan karena miskin itulah ia ndak bisa sekolah. Suatu ketika aku masih kanak – kanak aku merasa iri pada kawan-kawanku yang mereka memiliki ketercukupan segalanya, sekolah dibiayai ortu, bisa jajan apa saja, kendaraan punya, pakaian bagus, makan enak dan bergizi, tidur berkasur dan sebagainya, yang itu tiada pernah ada pada diriku, wajarkan itu sempat terbertik dalam benak aku saat itu. Seandainya aku ada mungkin aku udah melejit menembus jagad impian dan harapan sebagaimana kawan-kawanku yang telah cukup sukses dalam menapaki karir dan belajarnya. Ortuku hanya seorang “bakul gedang” (pedagang pisang) yang tidak mengerti bagaimana seharusnya mendidik putra-putrinya secara apik. Jangankan teori mendidik, teori dagang saja yang setiap hari digeluti tidak memiliki perhitungan matang bagaimana caranya untung, untuk itu wajarlah kalau harus pas-pasan mendapatkan keuntungan dan bahkan dari hari ke hari terjerat hutang yang semakin menggunung. Sehingga aku dibesarkan di jalanan, paham kan bagaimana sosok anak jalanan, aku manusia bebas, bebas bersikap, bebas menentukan pilihan, bebas menemukan figur dan bebas dari segala bentuk kebebasan. Cuman satu aku belum terbebas jika yang dimaksudkan adalah konstruksi pendidikan pembebasannya Poulo Friere, dan realitas konsep ustadz Poulo Friere inilah kemudian aku semakin memahami bahwa realitas manusia adalah belajar untuk membebaskan segenap belenggu keterkungkungan. Keterkungkungan fisik, keterkungkungan emosi, keterkungkungan intelektual dan keterkungkungan sosial ekonomi. itu aku padu dengan konsep Albert Camus sang manusia pemberontak, sehingga ini menjadi inspirasi himmahku bahwa aku harus memberontak terhadap realitas sekeliling yang membelenggu diriku dan keluargaku, sehingga sampai saat inipun aku jenuh dengan keterbelengguan, dengan penindasan, naïf rasanya hidup dengan segala ketertindasan dan keterkungkungan yang tiada berkesudahan. Pertanyaannya siapa yang telah mengungkung itu semua ? yang mengungkung aku adalah kultur dan akhirnya menjadi struktur sosial yang penuh dengan ketidakberdayaan dan ketidakmampuan dalam segenap dimensi yang melekat, untuk itulah aku tiada sedikitpun memiliki modal Hero (kebanggaan diri) dalam segenap hal.Akhirnya ini menjadikan aku ibarat binatang jalang yang keras, dan kemudian memahamkan akan relasi kuasanya gusti Focoult, Gramsci dan Hebermas yang menerangkan bahwa setiap orang itu senantiasa ingin menguasai orang lain dengan segala rekadaya, dengan lesan, kekuasaan bahkan mereka melakukan hegemoni dalam segenap prilaku manusia, maka tidak salah kemudian aku makin muak dengan segala bentuk feodalisme, kapitalisme, dan segala bentuk imperialisme lebih – lebih ini berkaitan dengan mental, betapa ironisnya jika seorang manusia secara mental ia terbelenggu oleh yang namanya feodalisme, kapitalisme dan juga imperialisme itu semua harus dilenyapkan dari segenap realitas kemanusiaaan. Akan tetapi tanpa sadar terkadang diri ini bertanya mungkinkah kita mensterilkan diri dari semuanya itu…Secara idealitas adalah sebuah tuntutan Haruslah diwujudkan sistem komunikatif dialogis antara semua pihak yang disarankan Jurgen Habermas, hanya dengan demikianlah yang namanya demokratisasi yang dinamis dan penuh kesetaraan seperti yang kita impikan akan mewujud. Konsep dialogis dan penuh kesetaraan dan keseimbangan akan melahirkan bentuk – bentuk harmonisasi serta keselarasan dalam hidup. Realitasku ditempa dan dipandu oleh pikiran-pikiran pembebasan itu sebab adalah sangat wajar dan logis manakala aku dibesarkan oleh lingkungan rendahan (pedagang pisang), yang harus mencucurkan keringat dengan memikul dagangan kemana-mana tuk sesuap nasi. Inilah realitas kedua ortuku untuk makan saja kelabakan mana mungkin bisa tuk menyekolahkan buat ke tujuh anaknya. Aku dilahirkan di rumah gedeg dari keluarga tidak mampu (pasangarn Mukiyi dan Sriyatun) yang mengalami kemiskinan struktural seperti yang disebut Oleh Mansur Faqih sehingga mungkin ini tidak manusiawi dalam perspektifku, dengan kondisi kemiskinan struktural (turun maturun dari si mbah/buyutku) itulah yang membuat seluruh saudaraku amat terbatas dalam segala gerak kreatifitas apalagi jika ngomong hak untuk belajar. “Mereka miskin karena ndak skolah dan mereka ndak bisa sekolah karena miskin” siklus dan struktur inilah yang ada pada diri. Hal demikian adalah kondisi obyektif dan cermin dari masyarakat pinggiran di pedesaan yang umumnya menjadikan mereka tiada berkutik. Yang ada pada mereka tiada pernah berubah dari waktu ke waktu dan hanya pasrah tanpa memiliki strategi ikhtiar secara maksimal. Aku anak ke 4 dari 7 saudara (Yanto, Ni’amah, Imaroh, Muhlisin, Mushodik, Fitri Insiyah, Siti Khoiriyah), dari itu tak satupun yang jadi “manusia pembelajar”. Kakak pertama Yanto, sekarang kerjaannya sebagai tukang, ia nempati tanah si mbahku dan rumah yang udah dibangunnya bersama 3 orang anaknya, dulu ia belajar hanya sampek SD dan SMP ndak tamat menurut cerita dia dulu pinter cuman karena sejak kecil ikut si mbah akhirnya pendidikan SMP-nya harus protol. Yang kedua Ni’amah, dia hanya mengenyam pendidikan sampek tsanawiyah, sekarang tinggal di Surabaya dengan 2 orang anak. Kakak ketiga Imaroh yang tanggal 24 Mei 2005 baru nikah, dia mengenyam pendidikan sampek SMA itupun harus ikut (mbabu) pada orang tuk biaya sekolah. Barulah Aku (Muhlisin) anak ke empat dan hanya akulah yang telah mencoba mengawali secara susah payah dengan segala “kemandirianku” aku mencoba ingin menjadi manusia pembelajar sebagai sarjana. Ini aku jalani melalui proses yang cukup rumit dan berliku, harus kerja sana kerja sini, jadi tukang sapu, jadi kuli cangkul sawah, jadi pekerja tetangga dan sebagainya, Baru kemudian disusul 2 adikku Musodik, anak ke lima, di FISIKA Unesa lulus 2004, dan nikah 28 Mei 2005, dan St khoiriyah, anak ke tujuh masuk di Tarbiyah IAIN Sunan Ampel tahun 2004, sedangkan adik perempuannku Fitri Insiyah, anak ke enam, ia ketika aku tawarkan tuk kuliah ia ndak berkenan dan setelah tamat Aliyah pengin kerja, kerja satu tahun di surabaya, ia udah dapat jodoh (Dwi Handoko) dari Caruban-Madiun, dan nikah bulan Pebruari 2004 Sehingga jika ngomong perjuangan mungkin aku sudah hampir habis rasanya keringat ini bahkan kalo’ aku sempat mencatat dalam catatan memoriku haruskah aku “berkeringat darah” sehingga aku mampu menggapai asa yang sudah hampir 30 tahun mengais harapan yang terpendam belum juga kesampeian. dan segala bentuk perjuangannku ini bisa aku refleksikan dalam catatan – catatan kecil, jadinya sekarang masih catatan-catatan dari memorinya yang terpotong – potong…. Pengalamanku pendidikan sangat amburadul dan mungkin kayak “rujak uleg”, aku dulu sekolah di TK dan MI Daya Muda Al-Islam Takat Kampung baru – Tanjunganom – Nganjuk (tanpa sekolah di SD), disanalah masa belajar sekolah dasarku (TK-MI) harus kulalui selama 8 tahun, mengapa delapan tahun sebab aku masih teringat ketika itu pada saat kelas 2 aku tidak mau sekolah dan hampir 4 bulan aku mbolos, disuruh sekolah aku lari dari rumah, muhlisin kecil saat itu nampak sesosok anak yang istilah jawa “bethik” dan “belis” sehingga ortukupun tidak mampu berbuat banyak walaupun sering kali mereka harus memukuli aku dan mengikat tanganku dengan tali ketika aku rewel dan bikin mereka pusing atas segala ulahku sampai setiap kali aku rewel aku diikat dan dikasih serangga (istilah jawanya “Anggkrang). Makanya saat itu tidak jarang kadang aku lempari rumahku dengan batu kerikil sambil dengan umpatan-umpatan yang tidak layak kiranya jika aku tulis disini. Tapi aku adalah sosok anak yang boleh dibilang cukup “cerdas “ waktu itu, ini terbukti ketika menginjak kelas 3 (tiga) setiap kali THB (Tes Hasil Belajar) catur wulan aku selalu mendapat rangking kalo tidak 1 ya 2 atau rangking 3, itu berlangsung mulai kelas 3 sampai kelas 6 MI, saat itu mereka yang mendapat rangking selalu diberi hadiah oleh bapak ibu guru berupa alat – alat tulis dan sebagainya, seperti buku pensil, penggaris dan lain-lain. Anak di kelasku yang saat itu selalu bersaing dengan aku adalah, Edi Kurniawan (putra bu umi, guru kelas 3 MI-ku) Isrin Nuzuli (cucu dari H. Am Sujudi kepala MI saat itu) dan Naning Awaliatiningtyas (putra pak Arifin, seorang guru agama SMU tanjung Anom-dan ibunya guru SD). Nama teman – temanku saat itu adalah, rofiq, suwandi, Zuraida, ninik, lilis suniah, muhsin, fathurrohman, farida astutin, khoirul anam, khusnul khotimah, st.Zulaikah, indi ro’fatul A’iniyah, suryani, Zen Nasrudin, dlll. Sampai aku kelas enam dan mengikuti persamaan EBTANAS SD dan aku mendapat DANEM (Daftar Nilai Ebtanas Murni) saat itu jumlahnya 41,63 jumlah ini cukup monumental saat itu, sehingga aku mendapat pujian dari para ustadz-ustadzahku di MI sehngga tidak rugi manakala ada momen tingkat kecamatan yang berkaitan dengan lomba kecerdasan, cerdas cermat dan sebagainya aku yang dijadikan duta/utusan dari MI-ku.. Dengan danem sejumlah itu akhirnya aku ndak kesulitan untuk lolos dan masuk SMP Negeri I Prambon – Nganjuk.Kemudian di SMPN I Prambon aku masuk kelas satu tahun 90, di sekolah ini aku lalui dengan cukup baik dengan berbekal ketekunan dan keuletanku aku lalui selama 3 tahun. Pada tahap sekolah SMP tentunya aku menyesuaikan dengan kultur kebiasaan kawan – kawanku yang rata-rata dari sekolah umum SD/ khususnya mereka telah terbiasa dengan seragam dan sepatu. Sementara aku semasa MI tiada pernah kenal yang namanya sepatu atau seragam. Saat itulah dalam batinku tertanam ,” bahwa kami adalah sama” biarpun aku berasal dari MI tapi kita adalah sama –sama siswa SMPN 1 Prambon dengan segala hak dan kewajiban yang tidak berbeda satu sama lain. orang lain tidak mungkin paham dan tahu bahwa aku adalah lulusan MI. asalkan aku percaya diri semua akan beres. Untuk itu aku tiada ketinggalan aku terlibat dalam banyak kegiatan seperti osis, kopsis, kerohanian, pramuka dan sebagainya.Aku saat itu masuk kelas 1 B, satu kelas dengan anak sekampungku Ahmad Yusuf, kelas duanya 2 D, dan kelas 3 nya F. diantara nama – nama kawanku smp — yang sempat aku ingat terutama di OSIS — adalah Joko Banu Sastriawan yang jadi ketua saat itu (yang katanya ia belajar S1 di Australia). Syahrul Musyafak, Widodo, Abd.Azis, Endah Ratnasari , dlll…Manakala aku berangkat sekolah saat itu, ortuku ndak kuat membelikan aku sepeda, sehingga kalo berangkat sekolah yang berjarak 5 km dari rumahku, aku harus numpang pada kawanku tetangga dusun namanya Supriyadi, ini aku lalui selama 3 tahun. Walaupun ada tetangga dekatku yang sama satu skol dengan aku tapi aku lebih enjoy dengan Supriyadi ini meski dia agak jauh rumahnya —- tetangga dusun—–, disinilah tidak jarang aku harus gandul sana, nunut sini manakala pulang sebab harus menunggu keluar kelas menjelang pulang dari kawanku itu, ataupun aku kadang ketinggalan dianya udah pulang duluan. Ustadz yang sempat akrab denganku adalah Gunaji BA dan istrinya (Bu Insiyah) yang menjabat pembina OSIS saat itu dan sekaligus ia menjadi tetanggaku serta memberikan aku kemduahan mendapatkan keringanan spp, sehingga aku hanya membayar spp 50 % ( Rp 1.500,- yang saat itu SPP-nya Rp 3.000).Ketika aku SMP aku telah terbiasa dengan “kemandirian”, ini bisa aku tunjukkan dengan setiap hari aku jadi tukang sapu SMEA Veteran dan kerja di sawah, kebun milik tetangga ataupun disuruh apa saja oleh tetanggaku manakala pulang sekolah , hari minggu atau liburan sekolah. Ketika di kerja di tetangga tentu aku mendapat upah beberapa rupiah dari mereka. SMEA Veteran itu dulu adalah sebuah sekolah menengah kejuruan yang berada di desaku, dan menjadi satu dengan yayasan ––Al- Ghozali — dimana aku mengaji disitu. Dengan menyapu dan membuka/menutup kunci sekolahan itu aku mendapat Hr Rp 5.000 setiap bulannya. Ini aku lalui pada tahun 1992-1995 – an uang segitu saat itu sudah cukup berharga. Dengan demikian ini cukup untuk membantuku melengkapi kebutuhan sekolahku saat itu. Aku mendapat kewajiban jadi tukang sapu sekolah itu sebab sebelumnya yang biasa mengerjakan adalah SODIKIN salah seorang seniorku ngaji di Langgar Al –Ghozali, tapi karena dia lulus dan harus pergi meninggalkan kampung halaman –kursus di pare– kewajiban itu diserahkan kepadaku.Sampai suatu ketika pada suatu pagi aku seperti biasa menyapu dan membuka pintu sekolahan serta halaman langgar aku dipanggil pak kyai Rustamaji –—- guru ngajiku—– untuk memetik nangka mentah (tewel) untuk bahan sayuran buat sarapan orang kerja, saat itulah kecelakaan dan musibah menimpaku, tanpa aku sengaja aku terjatuh dari pohon nangka kurang lebih setinggi 15 m, hal itu disebabkan cabang yang aku gapai ternyata sudah menjadi kayu kering ya akhirnya kayu itu sempal dan membawaku terjun bebas, saat itu aku ditolong oleh teman se ngajiku Ahmad Syafi’I ( Pingi, panggilannya, yang kemudian dianya kuliah di IAIN Samarinda) langsung aku diangkut becak ke pak Supar (H.Taufiq) seorang mantri kesehatan kampung sebagai pertolongan pertama. Selanjutnya aku dioperasi dan opname di rumah sakit Gambiran-Kediri, selama dua minggu karena patah tulang pergelangan tangan kiri, selama itu aku terasa terpasung di rumah sakit. Dan mulai saat itu aku mengenal berbagai macam Pil, dan obat, sebab perlu kiranya diketahui aku tidak biasa dan sulit sebelumnya dan tidak pernah yang namanya makan pil, suntik dan sebagainya, sampai saat inipun aku tetap seperti itu bahwa aku harus menghindari yang namanya obat apalagi obat – obat generik yang di jual di pasaran. Kecelakaan itu terjadi bulan Juni tanggal 16 /1992 tepat 8 hari setelah ultahku , ketika liburan kenaikan kelas 2 ke kelas 3, sehingga saat sekolah sudah masuk aku masih sakit di rumah, sehingga saat itu satu kelasku dan seluruh jajaran pengurus OSIS berkunjung ke rumahku.termasuk para guru-guruku (Gunaji, suprapto dan Sutikno) Akhirnya agar aku tak ketinggalan pelajaran klas 3 aku masuk sekolah dengan memondong luka tangan kiriku setiap harinya. Aku pada akhir tamat dari smp ada sebuah sponsor promosi dari sebuah lembaga pendidikan yang menawarkan dan mempromosikan diri, dan saat itu aku merasa tergiur akhirnya aku melanjutkan di SMT Pertanian Balonggebang – Gondang Nganjuk.DI SMT P (Sekolah Menengah Teknologi Pertanian) aku mulai masuk juli tahun 93, aku memilih jurusan THP (Teknologi Hasil Pertanian) dengan orientasi aku ingin menjadi petani modern dan di sekolah ini akan belajar berbagai sistem teknologi modern dalam bidang pertanian. di kelas ini ternyata sebagian besar adalah siswa CEWek sehingga teman cowokku hanya 7 orang dia adalah totok (jadi pengusaha sate), sarpan, alim sarohni (kuliah di IPB), eko jianto (petani sukses), eko sugiono (Jekek-Baron), m, Hidayat (peternak ayam di bandar kedungmulyo jombang), dan Hariyono (kuliah di Poltek Unej). Sedangkan teman perempuanku antara lain st romelah (Blongko-klodan sawahan- sekarang di Sampurna sby), Yussana Rs (sekarang nikah di daerah kendangsari Sby), Susilo Ernalawati, Yuliasih, Sundari, indriyana, nanik iswati, wartiningsing, Nurwati, dsb. Sampai aku lulus kelas tiga juni tahun 1996. Selama jadi siswa SMT P aku setiap tahun mendapat beasiswa supersemar, (Rp 180 ribu /tahun atau Rp 15.000/bulan) sehingga aku sekolah gratis dan mendapat tabungan. Di sela –sela aku belajar di SMTP aku mengajar TPA di Gading, dengan hr Rp 15.000,-/bulan, aku ngajar biasanya sepulang sekolah jam 02.30 sampai 17 .00 selanjutnya setelah maghrib aku jadi takmir masjid yang biasa adzan, imami dan ngajar ngaji, serta jadi tukang pel setiap hari jum’at. Setiap kali subuh aku harus adzan jam 04.00 aku harus bangun dan tarkhim, lalu adzan subuh. Sampai jam 05.30 aku pulang dan berangkat sekolah, jarak sekolahku dari rumah 40 kilometer, sehingga kalo’ aku berangkat kesiangan rasanya takut terlambat. Itu aku jalani 3 tahun harus mengayuh sepeda pancal, sehingga udah biasa jika terjadi ban kempes, rantai sepeda putus, baut lepas, dan sebagainya. Bahkan aku berangkat sekolah itu kadang pakek membawa engkol enggris, dan peralatan servis sepeda lainnnya di tas bersama buku pelajaran. Mash ingat dalam benakku setiap kali haus sepulang sekolah teman – teman mampir di warung es pertigaan ngrajek-tanjunganom-nganjuk dengan harga Rp. 150 ditambah jajan kecil yang hanya uang Rp 300 kita dapat mengisi perut yang keroncongan. Kadang juga kami mampir di warung Bulak –sambirejo warujayeng dengan model warung yang sama.Pada bulan juli 1995 aku PSG (Pendidikan Sistem Ganda) sebagai sebuah program yang baru diaplikasikan sebagai ganti yang namanya PKL (Praktek Kerja Lapangan) sebelumnya. Aku PSG di Perusahaan susu “Anugerah” jl. Imam Bonjol Kuwak- Kediri selama 3 bulan. Yang menjadi Guru pembimbingku saat itu adalah pak Gatot. Di tempat PSG ini banyak pengalaman dan cerita aku rasakan dan aku temukan, di sana realitas dunia kerja aku lakukan secara langsung mulai ngangkut kotoran sapi, ampas tahu, pakan, mencuci dan memerah susu sampai pada proses pemasaran semuanya aku pelajari dan aku lakukan setiap hari. Disitu aku dituntut untuk bangun jam 3 malam untuk mengawali memerah susu. Perlu diketahui untuk memerah susu itu ada interval khusus, yang biasa kami lakukan dalam memerah susu adalah sekitar jam 03.00 untuk perah pagi dan jam 12.00 untuk perah susu siang. Banyak orang yang sempat aku kenal di tempat perusahaan itu. (parno, kemi, komari, dan kohan sebagai bos dan pemilik perusahaan dsb). Disitulah aku cukup mengenal nilai sebuah pejuangan dari sebuah realitas hidup pegawai. Di sini aku sempat menjadi guru ngaji dan kadang menjadi imam sholat di Mushola dekat pabrik. Dari salah seorang murid ngajiku itulah kemudian ada beberapa orang yang sempat aku ajari baca al-qur’an. Pada saat itulah aku sempat mengenal kawan-kawan di sekitar pabrik SUSU itu. Bahkan setelah 2 tahun bertemu ada diantara murid ngaji itu yang sudah menjadi KOPASSUS. Sampai aku tamat kelas 3 Juli tahun 1996 dengan predikat lulusan terbaik. Sebagai lulusan terbaik aku mendapat hadiah berupa jam dinding yang sampai sekarang masih terpampang di dinding tempat tidurku ( jam dinding itu bertinta emas dengan tulisan “lulusan terbaik tahun ajaran 95/96 SMT Pertanian Balonggebang Gondang –Nganjuk” dan saat itu banyak tawaran agar aku ikut program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) ke IPB/UNEJ dan sebagainya, dengan mempertimbangkan segala ketidakmampuan finansial aku tolak semua itu, dan aku spekulasi memilih IAIN Sunan Ampel Surabaya untuk lanjutan studiku. Keputusan ini aku pilih setelah berkonsultasi dengan guru agamaku, bahwa bisa kok masuk IAIN meski dari sekolah kejuruan, asal dapat tes penyaringan dan ustadzku merasa yakin sebab nilai pelajaran agamaku 9 (sembilan). Dengan berbekal kemampuan seadanya yang melekat pada nalarku aku mendaftar di IAIN sunan Ampel Surabaya. Mengapa memilih Surabaya sebab dengan memilih belajar di Surabaya rasanya aku PD (percaya diri) dan memungkinkan untuk ngobyek, lagian di surabaya aku punya kakak yang bisa setiap saat aku mintai bantuan sekiranya terpaksa. Sejak tahun 1996 itulah aku hidup dan melanglang nasib di kota metropolis Surabaya, dengan sejuta proses kemudian aku lalui. Dengan segala kepincangan ekonomi dan keterbatasan segalanya aku berproses mengikuti arus dan langkah kakiku tuk menggapai harap. Akhirnya selama 9 tahun telah aku lalui hidup ditengah dentuman keras dan panasnya Kota Surabaya dengan segala kepahitan dan kegetiran …… (bersambung: “jalan terjal menggapai Sarjana”)

Responses

  1. ass.
    mas muhlis smg keberkhaan u antum
    smg sukses dunia akherat
    rizki melimpah lahir batin
    jaya di dunia jaya diakherat
    saya mau kirim resensi buku saya, emailnya apa ya…
    wass
    http://www.iq-sukses.net

  2. assalamu’alaikum
    bapak muchlisin yang setanah air dengan saya, tanah air nganjuk, saya sangat salut dengan perjuangan bapak. Pada dasarnya saya merasa ada kesamaan dengan bapak, sama-sama punya jiwa pemnerontak. Hanya saja bapak berusaha bagaimana bisa keluar dari belenggu ekonomi, sedangkan saya berusaha berontak dari belenggu ekstremitas doktrinal ayah saya. Saya mengharapkan spirit dari bapak agar saya bisa setegar bapak. Terima kasih

  3. lho koq bersambungggggggggggg………sambungane mana?kisah hidup tragis realistis. suka nulis diary ya Mr……..

  4. kesusahan adalah jalan panjang menuju kesuksesan, tul g?

  5. Mas Mukhlis…
    Cerita sampeyan kok mengharukan sekali. Aku nggak inget siapa sampeyan secara detail, namun aku merasakan bagaimana kisah seorang anak desa dari kecamatan Prambon yg berjuang keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Terimakasih masih ingat aku, kapan-kapan kita reuni lagi di SMPN 1 Prambon.

    Joko Banu Sastriawan

    • mas mukhlis ,klas 1 th 1990 ditrima di klas 1 apa

    • joko banu ,mudah mudahan sukses

  6. pak breng ,,, ojo jujur nemen2,,,
    wes pak, aku nggak bs ngasih coment tuk history sampean,,terlalu seru,, kocak,, mengharukan,, bahasanya nganjuk bangetttt,,,
    truss opo maneh yaa???
    skrg kan udah hidup mapan,,, jadi nikmatilah hidup ini Paaaaakkk!!!!!!

  7. selamat kak muhlis, semoga selalu sukses

  8. assalamu`alaikum
    bapak muhlis ni salah satu muridnya dari kelas B jurusan PAI.
    bapak rumahku bandung prambon.
    bapak nanti pas lebaran saya boleh ke rumah bapak?
    hari ke berapa bapak ada di rumah?

  9. As,pak aku murid PAI[A]semstr1,cerita bapak hampir seperti aku sejak d IAIN.Aku kuliah d IAIN karna aku guru TPQ,padahal aku lulusn SMK busana/menjahit th 06.bedaya aku dulu pernah mondok SMP3th.sedangkan bapak g mondok tp ikut ngaji.aku ngak PD karna banyak teman2 lulus08 yg pinter2.Pak aku minta saran2nya biar aku jadi PD.Karna aku kuliah aku usahakan biaya sendiri dari hasil menjahit.Ayahku habis ini d PHK padahal aku punya adik umur3th.

  10. ALLAHU AKBAR!!!
    Sungguh perjuangan yang luar biasa..
    Podo ae pak…uripku biyen yo soro, tapi ALhamdulillah berkat ridhoNYA sekarang gak soro soro nemen….

    SALUT!!

  11. ALLAHU AKBAR!!!

    Sebuah perjuangan yang patut dijadikan teladan.
    Podo ae ustadz..aku biyen yo soro, tapi ALhamdulillah saiki wis gak soro soro nemen.

    Terus berjuang di jalan ALLAH ustadz!!

  12. As,pak?
    Saya murid bapak dari PAI[A] ILMI WACHURIN IN.Saya mau tanya apa bapak temannya Drs.Muzakki?yang putrany pak Sulaiman?

  13. masya Allah,pak sungguh saya tidak menyangka saya bisa bertemu dengan bapak yang begitu banyak pengalamannya,apalagi ilmunya.semoga dalam mengajar bapak tidak membuat saya bingung,dengan wawasan yangbapak miliki.terus terang saya takut kalok ingin menanggapi,atau bertanya ma bapak.krn hrus di tata dulu kata-katanya.

  14. masya Allah,pak sungguh saya tidak menyangka saya bisa bertemu dengan bapak yang begitu banyak pengalamannya,apalagi ilmunya.semoga dalam mengajar bapak tidak membuat saya bingung,dengan wawasan yangbapak miliki.terus terang saya takut kalok ingin menanggapi,atau bertanya ma bapak.krn hrus di tata dulu kata-katanya.pai A

  15. saya jadi brebes mili setelah membaca historis dari Bapak,asam garam yang telah Bapak lewati sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga dan menjadi sebuah inspirasi bagi saya, tapi masalahnya saya ndak bisa seperti Bapak yang begitu semangatnya dalam memperjuangkan hiruk pikuk kehidupan yang Bapak alami, saya sebenarnya ndak PD kuliyah disini n masih katrok bgt,gaptek dll hanya dorongan orang tua dan ridlohnya para asatidz yang mendorong saya kuliyah disini,setelah membaca n meresapi dari perjalanan kehidupan BAPAK, semoga menjadi inspirasi dan semangat baru bagi saya.walaupun kadang2 ndak paham dengan pelajaran yang telah diterangkan karena saking luasnya wawasan dan pengalaman yang Bapak miliki, semoga bermanfaat bagi saya untuk kedepannya n saya mau bertanya :Bagaimana menumbuhkan semangat yang begitu besar dalam menghadapi semua masalah padahal kebanyakan orang itu tidak mampu tuk mengatasinya? dan bagaimana menumbuhkan semangat belajar yang begitu tinggi sehingga menjadikan Bapak menjadi orang yang sukses dan berhasil seperti sekarang ini? Terima kasih (kulo saking kelas setunggal E jurusan PAI)

  16. Asswrwb
    Saya sangat menghargai perjuangan anda mas.. begitulah ciri2 orang yg akan sxs n berhasil dunia-akherat, INSYA ALLOH.
    Karya2/tulisan Ilmiah juga berisi.. ayo berkarya terus…
    Eh, saya minta ijin juga neh untuk menggunakan tulisan anda sebagai rujukan tulisan saya untuk selesaikan kuiah.. tentang kinerja guru.. semoga diijinkan ya…
    Terimakasih semuanya… semoga anda selalu dikaruniai Alloh Aman Sehat Selamat Lancar n Barokah dalam segala urusan..
    salam kenal…
    wasswrwb

  17. trimakasih atas semuanya yang telah kakang ajarkan kepada kami. semoga apa yang kakang ajarkkan selama ini mendapat balasan yang lebih baik disisiNya Amien…

  18. aku dulu juga dari smt pertanian balonggebang , saya bangga dengan misi anda dan tetaplah istiqomah karena semakin tinggi iman seseorang semakin tipis bedanya godaan dan anugerah ALLOH

  19. edi cerita PMII ne kang

  20. saya sangat bangga atas kekuatan & ketabahan anda dalam menjalani hidup ini, mskipun banyak hambatan, rintangan……., tp yakinlah sesudah kesulitan pasti ada kemudahan selama sesuatu yang kita lakukan itu berguna & selalu mengharapkan ridho dari ALLAH SWT..
    Amiin…………

  21. salut…………….

  22. cerita itu hampir mirip dengan apa yang saya alami, kebetulan saya juga alumni SMPN 1 Prambon ’85, oke itulsh hidup

  23. Mas Muklisin kalo bs aku minta tolong bisa gak kontakan dengan temen2 seangkatan di SMPN 1 Prambon yang saya tau ada ibu Dina Patria Dewi ada didaftar pengajar di almater kita, saya sudah kehilangan kotak dengan temen2 cukup lama sekali Oke trimakasih banyak mas bantuannya

  24. aslm…kum,salute atas perjuangannya,salam dr sesama wong parenteng mas.

  25. mas rupanya kita sama alumni SMT pertanian….aq lulusan tahun 1998 ( THP )

    • benthing nandi yus.aku subadi agronomi 98.

  26. lakon urip…

  27. mas yusmiaji masih kenal saya nggak.subadi agronomi lulusan 98 juga.kontak aku yach.kini aku ada dikorea.salam untuk mas muchlisinsenior saya.semoga kearokahan selalu bersama hidup anda.

  28. aduh sy merasa hrs ikut ngomong kalau denger SMT pertanian Nganjuk, krna sy jg alumni th 90, skrg sy menetap di Cianjur Jabar. salut bgt atas perjuangan rekan-rekan alumnie.

  29. Ass..ternyata perjalanan kita panjang ya pak muchlis…saya salut dengan bapak.saya bangga punya teman seperti bapak.Kita seangkatan di SMT pertanian.Salam buat kawan kawan.Wass..

    • Akris piye kabare?

  30. aku salut sama sobat aku doni alumni smt pertanian lulusan 1991 aku di jurusan thp 1 sekarang aku kerja dimedia cetak dijakarta masuk di media kompas

  31. Lha terus domisili ning ngendi ChLiss…aku ning Bagor.

  32. mau nanya alim saiki ndok endi ? aku mas e totok ngluyu

    • aq di UINSA surabaya jl.a.yani 117 surabaya
      mas alim sarochnmi smtp96 meninggal di pamulang

  33. saiki nyang endi mas aq mrite pak tam

  34. waduh pak,,, critone,,,,, bikin org nangis ae,,,
    cepet di sambung critane pak,,,,,
    hebat-hebatt

  35. sangat mengharukan….

  36. as..wr..wb…salam kenal

  37. tak bisa lg komentar yg jelas sy dl murid pak iwan di sma pgri gondang bahkan byk temen2 dr smtp itu

  38. Assalamu’alaikum

    Mas muklis sampean sak leting karo aku podo-podo lulusan terbaik th. ’96 cuman bedo jurusan aku MP sampean THp, sih inget ora karo aku, aku nang Riau-sumatra, nang ngedi saiki sampean? wes dadi wong sukses yo…,
    sampean iki ceritane melas banget

  39. Assalamu’alaikum. Mungkin kamu lupa ya sama aku teman 1 kelas di 1B.aku zubaidi dari kurung rejo juga.gak nyangka,kamu skrng udh jd orang hebat ya….

  40. mas mukhlis ,klas 1 th 1990 ditrima di klas 1 apa

    • aq di UINSA surabaya jl.a.yani 117 surabaya
      klas 1B


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: