KULIAH PSI

Responses

  1. icank_kakiku@yahoo.com

  2. JIHAD MENURUT AL-QUR’AN DAN HADIS

    MAKALAH

    Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

    PSI / MSI

    oleh :

    Mutik Ullah
    ( D01303073 )

    Dosen Pembimbing :

    Drs. Muhlisin,S.Ag

    FAKULTAS TARBIYAH
    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
    SUNAN AMPEL
    SURABAYA
    2007

    Tugas individual mata kuliah psi/msi

    A. Peletakan Istilah Jihad Dalam Ungkapan Al-Qur’an Dan Hadis
    1. Al- qur’an
    Allah swt berfirman:
                    
    “ Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Baqarah:193).
           
    “ Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan Jihad yang besar”. (QS. Al-Furqan ayat :52).

    2. Hadis
    Rasulullah saw bersabda :
    Dan Rasulullah saw bersabda bahwa: “Jihad terbesar adalah perang melawan hawa nafsu”. Bukan perang dengan anak-anak negeri sendiri”. (Al-hadis).

    Dari Ibn ‘Abbas r.a.: “Bahwa ada seorang perempuan yang datang menghadap kepada Rasulullah Saw, ia berkata: “Wahai Rasulullah, saya utusan dari para perempuan (datang) menghadapmu untuk bertanya; Jihad ini diwajibkan kepada para laki-laki, kalau mereka selamat pulang, mereka akan memperoleh pahala, dan kalau mereka terbunuh, mereka akan hidup di sisi Tuhan mereka, dengan penuh rizki (kenikmatan). Tetapi kami, para perempuan hanya (tinggal di rumah) melayani mereka (laki-laki). Bagaimana kami bisa memperoleh semua (pahala) itu? Rasullah Saw menjawab: “Sampaikan kepada semua perempuan yang kamu temui, bahwa mentaati suami dan memenuhi hak-haknya adalah sama (pahalanya) dengan jihad, tetapi sedikit sekali diantara mereka yang melakukan itu.” HR. Al-Bazzar Dan Al-Thabrani.

    Al-Quran sendiri tidak secara definitif memaknai jihad sebagai perang. Al-Quran menggunakan istilah al-qitâl sebagai padanan perang. Sementara jihad tetap kaya dengan multimakna dan multi bentuk.Dalam surat Al-Furqan ayat 52 yang turun di Makkah disebutkan,” Karena itu janganlah turut orang yang kafir, dan berjihadlah melawan mereka dengan jihad yang besar”.
    Variasinya Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai jihad besar (jihâd kabîr) ini, Menurut Ibn Abbas, konotasi jihad dalam ayat itu adalah dengan Al-Quran, menurut Ibn Zayd dengan Islam, dan ada yang berpendapat dengan pedang alias perang. Namum Al Qurthubi dalam tafsirnya al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân (1995: 56) menolak keras pendapat terakhir; jihad dengan pedang, karena ayat ini turun di Makkah, jauh sebelum turun perintah perang. Sedangkan makna jihad yang besar, menurut Al-Zamakhsyari dalam kitab nya, Tafsîr al-Kasysyâf (1995: 278) mencakup segala bentuk perjuangan .
    Seorang ulama fikih klasik Syatha’ al-Dimyati dalam kitab kuningnya I’ânah al-Thâlibîn mendefinisikan jihad sebagai aksi menolak marabahaya dan kekacauan serta berjihad untuk kemakmuran dan kesejahteraan: sandang dan pangan (daf`u dlararin ma’shûmin min muslimin jâ’i`in aw `ârin wa nahwihimâ). Jika mau konsisten, perang malah diperbolehkan oleh al-Quran untuk melawan “fitnah”: perangilah mereka sampai tiada lagi (timbul) fitnah wa qâtilûhum hattâ lâ takûna fitnah (QS al-Baqarah: 193).
    Fitnah di sini menurut mayoritas ulama tafsir bermakna segala kekacauan akibat, pengusiran, perampasan, dan pembunuhan. Kekacauan yang menebarkan ketakutan dan rasa tidak aman. Fitnah adalah terorisme. Jihad melawan terorisme berarti jihad melawan kekacauan yang berakar pada “fitnah” tadi.

    Sementara ulama adalah artikulator, penafsir lidah agama, namun bukan berarti seperti Si Pahit Lidah, yang kerjanya, cuma mengumbar kebencian, dan kutukan. Karena agama bukan ancaman dan kutukan. Tantangan terbesar bagi ulama untuk, tidak hanya dituntut menjalankan agamanya secara benar, tapi juga menjaga agar agamanya tidak di gunakan menjadi alat untuk membunuh. Wallahu a’lam.

    B. Medium Ekspresi Jihad Bagi Individu Dan Kelompok Muslim
    Anggapan bahwa jihad dalam islam selalu identik dengan kekerasan, penghancuran, dan bahkan penghilangan nyawa seseorang yang di anggap tidak islami atau tidak sepaham dengannya,itu adalah keliru total.Memang banyak orang memahami konsep jihad yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, boleh jadi tulisan ini pun berbeda pengertiannya dengan kebanyakan orang yang telah punya penafsiran tersendiri tentang arti dari jihad.
    Doktrin jihad memang sudah ada dalam sejarah islam, meski sekarang jadi pertanyaan kenapa jihad identik dengan terorisme, artinya pengaitan jihad dengan terorisme adalah sessuatu yang baru muncul kemudian, sesuatu yang kontemporer.
    Yang patut kita renungkan di sini, sebenarnya islam di turunkan Tuhan ke alam ini tiada lain adalah penyempurna etika manusia atau membangun manusia yang bermoral, sehingga keberadaan islam adalah untuk membentuk tatanan kehidupan manusia yang harmonis, damai dan sejahtera. Nilai-nilai inilah yang menjadikan islam sebagai agama yang bersifat universal dan inklusif.

    C. Hukum Jihad Di Negara Kesatuan Republik Indonesia
    Dan UU No 16/2003 yang berisi: terorisme didefinisikan sebagai perbuatan yang merupakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional. Dari definisi mengenai terorisme itu dapat disimpulkan, terorisme adalah kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan (extraordinary crime against humanity).
    Tetapi undang – undang tersebut mendapat keputusan baru dari Mahkamah Konstitusi yang membatalkan UU No 16 Tahun 2003 tentang Penerapan Perpu No 2/2002 tentang Perpu No 1/2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Peledakan Bom Bali 12 Oktober 2002 merupakan sebuah keputusan hukum yang dihasilkan melalui pertimbangan hukum yang murni dan bersifat final serta mengikat.
    Hal itu merupakan keputusan dari sembilan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang di pimpin Jimly Ashidiqie, sehingga putusan Mahkamah Konstitusi itu patut dihormati dan dipatuhi dalam pelaksanaan hukum selanjutnya. Tetapi, kita tidak dapat menolak potensi timbulnya implikasi yang harus dihadapi Indonesia berkait dengan pembatalan UU No 16/2003 itu. Implikasi-implikasi itu dapat berupa implikasi politik dan hukum, baik yang berpengaruh terhadap kondisi di dalam negeri maupun reaksi dari luar negeri.
    Jika melihat pada Putusan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan pembatalan UU No 16/2003, persoalan yang menjadi dasar pembatalan undang-undang itu adalah pada penerapan asas retroaktif dalam UU No 16/2003. Sebenarnya konstitusi Indonesia tidak memperbolehkan diterapkannya asas retroaktif dalam perundang-undangan, tetapi pemerintah menganggap kasus bom Bali sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) sehingga harus dihadapi secara luar biasa juga dengan pemberlakuan undang-undang yang bersifat retroaktif. Indonesia sekarang hanya memiliki UU No 15/2003 tentang Terorisme.

    Hal ini dapat di ambil pelajaran, bahwa sistem perundangan di Indonesia harus terstruktur rapi dan sistematis, jangan sampai tumpang tindih dengan peraturan perundang-undangan lainnya. Bangsa Indonesia juga harus siap saat menghadapi aneka konsekuensi serta implikasi dari suatu putusan pengadilan yang mungkin dianggap kontroversial. Apa pun putusan Mahkamah Konstitusi harus dihormati dan dipatuhi bangsa Indonesia dengan segala implikasi yang mungkin akan timbul karenanya.

    D. Sarana Yang Efektif Dalam Jihad Bagi Warga Negara Indonesia
    Perlu ditegaskan, pertama, jika negara bangsa ini lahir dari perjuangan kebangsaan yang tidak memperhitungkan kelompok, entah Islam, Nasrani, Cina, dll. Mereka sama-sama mengorbankan nyawa untuk semangat anti penjajahan. Dalam satu musuh kita bersatu dalam derap perjuangan, sehingga konsepsi Pancasila yang tidak akan pernah meminggirkan kelompok minoritas.
    Kedua, apa yang telah dilakukan kelompok-kelompok radiakal itu bukan jihad, pasti bukan jihad sebagaimana yang dimaksud al-Qur’an dan Sunnah. Mereka merupakan interpretator-interpretator salah kaprah untuk al-Qur’an dan Sunnah. Karena jihad yang dimaksud adalah melawan kaum kafir yang memerangi (dzimmi) sementara penduduk non muslim bangsa ini tidak memerangi umat Islam (ghoiru dzimmi).
    Ketiga, benih-benih radikalisme tidak lahir dari al-Qur’an dan Sunnah tetapi muncul dari pandangan yang sempit tentang Pan-Islamisme. Padahal Pan-Islamisme terbukti gagal dalam sejarahnya. hancur berantakan. Radikalisme memang tidak akan pernah mati karena ia tidak bernyawa dan berada dalam sumsum para interpretator keliru kelompok Islam yang mengaku berjihad, Mereka pastilah tidak menelusuri jauh karya-karya ulama salaf tentang jihad dan atau tidak mampu memahami bagaimana negara ini telah berdiri kokoh dalam ideologinya. Negara ini negara sekuler, bukan negara Islam, karena itu gagasan syariat Islam (pemerintahan islam ) merupakan gagasan pemecah belah Pancasila.
    Jadi untuk mengepresikan jihad untuk warga Negara Indonesia ini adalah bagaimana menjaga kesatuan republik Indonesia dengan jalan meningkatkan sumber daya manusia ,mutu pendidikan ,perekonomian dan lain-lain.

    E. Musuh Dan Target Sebuah Jihad
    Jika benar mau berjuang untuk syiar Islam, betapa tak terhingganya umat islam negeri ini yang melarat, jadi maling motor ,HP, koruptor kecil-kecilan atau yang besar-besaran, tengkulak, germo, preman, dsb. itu saja jadi bagian obyek perjuangan bukan negara dan bangsa ini.
    Pertama, lihatlah makna teror secara menyeluruh. Jangan-jangan melakukan peperangan terhadap teror yang berakibat kepada tindakan terror yang sama, walau dalam bentuk yang berbeda. Teror militer misalnya jangan menjadikan kita lupa terhadap teror ekonomi. Teror fisik jangan menjadikan kita buta terhadap teror iman dan moral. Jika gagal melihat teror dalam perspektif ini, maka akan terjadi teror melawan teror. Pada akhirnya kita akan bingung, siapa yang sebenarnya teroris itu?
    Kedua, bahwa teror itu telah melampaui semua batas. Olehnya kita perlu berhati-hati, jangan sampai melihat bahwa teroris itu terbatas pada orang atau kelompok tertentu. Dan ini dapat dilhat pada fenomena terakhir, di mana ekspresi kemarahan tetumpah di mana saja, termasuk di Brazil, Prancis, dan kini di Korea.
    Jadi musuh atau target dalam jihad yang sebenarnya adalah diri nya sendiri (hawa nafsu),kebodohan,sampai kepada musuh yang mengancam islam,inilah target sebenarnya dari sebuah jihad yang suci bukan orang –orang yang tidak berdosa.

    F. Hubungan Terorisme Dengan Jihad Islam
    Oleh karena itu doktrin jihad, sebagaimana yang diungkap dalam kitab-kitab kuning, tidak ada sangkut pautnya dengan terorisme. Terorisme muncul ketika nujuman “benturan peradaban” (clash of civilations) menghendaki adanya pihak lain yang menghendaki adanya benturan ditingkat riil, sebagaimana yang sering kita lihat dalam aksi-aksi teror selama ini.

    Bicara jihad sepertinya tak akan pernah kering untuk di diskusikan, terlebih bila dikaitkan dengan pergumulan cara pandang di kalangan muslim sendiri maupun di luar muslim dalam memahami substansi ajaran islam.Kata jihad seolah dipahami angker,kekerasan, sarat dengan pemahaman serba fisik dan sikap-sikap insinuatif. Jihad dalam Alquran sebanyak 41 kali. Tema jihad itu berasal dari kata kerja jahada, berarti usaha, upaya. Maka membicarakan jihad berarti membicarakan juga asal mula dari kata jihad, yaitu ijtihad dan mujahadah. Baik jihad, ijtihad maupun mujahadah berasal dari satu kata bermakna keseriusan dan kesungguh-sungguhan.
    Jadi, berjihad, adalah membangun atau mengupayakan sesuatu yang sifatnya fisik maupun non fisik. Sedangkan ijtihad, berarti usaha membangun sisi intelektualitas manusia seperti ijtihad para ulama’ dalam menetapkan suatu hukum yang tidak terdapat dalam Alquran maupuj sunnah nabi. Sementara mujahadah berarti upaya sungguh-sungguh membangun spiritualiatas manusia.
    Dalam perkembangannya kemudian, jihad mengarah pada pengertian tertentu yang menekankan sesuatu yang sifatnya fisisk atau material, sedangkan ijtihad maupun mujahadah penekannya lebih kepada non-fisik atau immaterial. Sebenarnya dari ketiga kata itu menurut nabi kita, mujahadahlah yang menempati urutan tertinggi, karena selain bersifat privacy (mengahadapi diri sendiri seperti hawa nafsu), juga mengharuskan tingkat dan waktu perjuangan secara kontinu sepanjang hayat.
    Jihad, tidak bisa didefinisikan sekedar berperang. Pemahaman tersebut telah melakukan pengerdilan terhadap ajaran jihad yang agung. Menurut seorang ulama kharismatik Syriah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadlan Al-Buthi, dalam bukunya al-Jihad fi al-Islam jika jihad diidentikkan sebagai perang, maka ajaran jihad akan kehilangan makna yang sebenarnya dan segala macam-macamnya.
    Terorisme memiliki dua sisi yang tidak bisa dipisahkan dari aksi dan ideologi. Drama teror ini menampilkan dua tokoh: aktor sebagai eksekutor aksi teror dan aktor intelektual yang membangun basis ideologi teror.
    Ideologi teror tersebut ditanam oleh aktor-aktor intelektual yang sangat mahir memainkan ayat-ayat Tuhan untuk menggiring pemuda-pemuda tak berdosa sebagai pelaku terorisme.
    Seorang teroris dipastikan memiliki guru, dan balai pendidikan yang membentuk jiwa, pikiran, dan menunjukkan jalan terorisme itu. Teror adalah tindakan kekerasan baik secara fisik maupun non fisik terhadap civilian. Artinya semua bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, apakah itu secara individu maupun kolektif dengan target maka dikategorikan tindakan teroris atau teror.
    Oleh karenanya, teroris bisa berbangsa Arab, Persia, Pakistan, India, China, Afrika, Prancis, Inggris, maupun Amerika. Teroris bisa beragama Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, atau pun Yahudi.
    Sederhananya, teroris-teroris itu adalah korban dari manusia yang disebut ulama tidak bertanggungjawab itu. Anehnya, ulama-ulama kharismatik itu hanya berani membakar kemarahan dan kebencian umat, tanpa memiliki keberanian berada di garis terdepan dengan membawa bom. Jangankan meledakkan dirinya, anak-anaknya pun tidak diajari untuk menjadi teroris dan melakukan pembunuhan. Mereka cukup mempengaruhi santri, tetangga, dan orang lain untuk melakukan aksi-aksi kekerasan.
    Maka dari itu, seorang ulama memiliki peran vital terhadap terorisme. Peran itu dimulai, bagaimana mereka meracik dan menyuguhkan agama ada umat. Jika mereka menyuguhkan agama sebagai ajaran kebencian dan kekerasan, maka, agama akan menjadi kekuatan terorisme maha dahsyat.
    Agar tetap menarik dan laku, agama dikemas dan dipromosikan melalui pengajian, khutbah, pengkaderan, dan diiming-imingi janji-janji: mati syahid, kenikmatan kehidupan sorgawi dan menikahi bidadari. tidak sedikit dari ulama-ulama itu menjadi aktor intelektual dan mendukung terorisme.
    Namun jika ulama konsisten mengemas dan menyuguhkan agama sebagai ajaran perdamaian, kerukunan, dan antikekerasan, maka, terorisme dan aksi-aksi kekerasan itu akan dianggap berlawan dengan ajaran agama itu sendiri.
    Kesimpulannya adalah , jihad yang di ajarkan dalam agama islam dapat di kelompokkan menjadi beberapa bagian diantaranya mengenai diri sendiri (yaitu melawan kemauan hawa nafsu) ,mengenai Negara (berjuang bersama-sama walaupun beda agama dan kepercayaan demi menjaga kesatuan dan kemerdekaan bangsa),berjuang melawan tindak kekerasan (amar ma’ruf nahi mungkar).jadi dapat di katakan bahwa islam itu bukan terorisme,jihad itu belum tentu teror,dan sudah pasti bahwa teror dan terorisme adalah sesuatu yang wajib bagi kita untuk melawan dan membumi hanguskannya.pelaku teror adalah orang yang sebenarnya tidak mempunyai agama walaupun dia seorang yang beragama,dan semua agama tidak ada yang mengajarkan untuk mengerjakan tindakan teror bahkan semua agama mengecamnya.jadi jelas bahwa teror itu adalah sebuah alat untuk menimbulkan kekacauan dan ketakutan yang pelakunya akan merasakan kenikmatan tersendiri jika masyarakat yang di teror nya mengalami ketakutani kan pelaku teror itu sedikit banyak mengalami gangguan jiwa.

    G.Perkara-Perkara Dalam Berjihad
    Ada banyak perkara yang perlu diperhatikan oleh seorang mujahid. Pertama, niat yang betul, yakni li-i‘la’i kalimatillah, bukan untuk gagah-gagahan, cari popularitas, dan tujuan duniawi lainnya. Kedua, harus dibawah komando seorang imam dan setelah ada deklarasi perang. Ketiga, harus seizin kedua orangtua. Keempat, harus banyak berzikir, berdoa dan bersabar. Kelima, harus memberi kesempatan terakhir kepada musuh sebelum berperang dengan mengajak mereka masuk Islam atau membayar jizyah. Keenam, dilarang membunuh kaum wanita, anak-anak, dan orang-orang lanjut usia. Ketujuh, tidak boleh merusak lingkungan hidup, rumah-rumah ibadah dan fasilitas umum.
    Berjihad merupakan fardhu kifayah. Artinya, tidak perlu semuanya pergi ke medan perang. Harus ada juga yang ditugaskan membangun Umat di sektor-sektor lain, terutama pendidikan (QS 9:122). Jihad bisa menjadi fardhu ayn apabila kampung halaman kita diserang dan diduduki musuh (seperti terjadi pada zaman kolonial dahulu, sekarang, maupun yang akan datang).
    Namun demikian, terdapat puluhan ayat al-Qur’an dan hadits Nabi SAW yang menerangkan keutamaan jihad dan penghargaan yang akan diperoleh oleh seorang mujahid, apalagi untuk mereka yang gugur sebagai syuhada’.
    Dalam konteks Indonesia dan negara-negara Muslim lainnya dewasa ini, dimana Islam belum secara total direalisasikan, para tokoh gerakan Islam umumnya berpendapat bahwa agenda utama yang mesti didahulukan saat ini adalah membina individu dan organisasi Muslim serta membangun kekuatan Umat pada semua lini.
    Dengan kata lain, belum tiba masanya bagi orang Islam sekarang ini untuk melakukan konfrontasi militer melainkan dalam kasus-kasus yang kita semua ketahui.

  3. JIHAD MENURUT AL-QUR’AN DAN HADIS

    MAKALAH

    Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

    PSI / MSI

    oleh :

    Mutik Ullah
    ( D01303073 )

    Dosen Pembimbing :

    Drs. Muhlisin,S.Ag

    FAKULTAS TARBIYAH
    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
    SUNAN AMPEL
    SURABAYA
    2007

    Tugas individual mata kuliah psi/msi

    A. Peletakan Istilah Jihad Dalam Ungkapan Al-Qur’an Dan Hadis
    1. Al- qur’an
    Allah swt berfirman:
                    
    “ Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Baqarah:193).
           
    “ Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan Jihad yang besar”. (QS. Al-Furqan ayat :52).

    2. Hadis
    Rasulullah saw bersabda :
    Dan Rasulullah saw bersabda bahwa: “Jihad terbesar adalah perang melawan hawa nafsu”. Bukan perang dengan anak-anak negeri sendiri”. (Al-hadis).

    Dari Ibn ‘Abbas r.a.: “Bahwa ada seorang perempuan yang datang menghadap kepada Rasulullah Saw, ia berkata: “Wahai Rasulullah, saya utusan dari para perempuan (datang) menghadapmu untuk bertanya; Jihad ini diwajibkan kepada para laki-laki, kalau mereka selamat pulang, mereka akan memperoleh pahala, dan kalau mereka terbunuh, mereka akan hidup di sisi Tuhan mereka, dengan penuh rizki (kenikmatan). Tetapi kami, para perempuan hanya (tinggal di rumah) melayani mereka (laki-laki). Bagaimana kami bisa memperoleh semua (pahala) itu? Rasullah Saw menjawab: “Sampaikan kepada semua perempuan yang kamu temui, bahwa mentaati suami dan memenuhi hak-haknya adalah sama (pahalanya) dengan jihad, tetapi sedikit sekali diantara mereka yang melakukan itu.” HR. Al-Bazzar Dan Al-Thabrani.

    Al-Quran sendiri tidak secara definitif memaknai jihad sebagai perang. Al-Quran menggunakan istilah al-qitâl sebagai padanan perang. Sementara jihad tetap kaya dengan multimakna dan multi bentuk.Dalam surat Al-Furqan ayat 52 yang turun di Makkah disebutkan,” Karena itu janganlah turut orang yang kafir, dan berjihadlah melawan mereka dengan jihad yang besar”.
    Variasinya Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai jihad besar (jihâd kabîr) ini, Menurut Ibn Abbas, konotasi jihad dalam ayat itu adalah dengan Al-Quran, menurut Ibn Zayd dengan Islam, dan ada yang berpendapat dengan pedang alias perang. Namum Al Qurthubi dalam tafsirnya al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân (1995: 56) menolak keras pendapat terakhir; jihad dengan pedang, karena ayat ini turun di Makkah, jauh sebelum turun perintah perang. Sedangkan makna jihad yang besar, menurut Al-Zamakhsyari dalam kitab nya, Tafsîr al-Kasysyâf (1995: 278) mencakup segala bentuk perjuangan .
    Seorang ulama fikih klasik Syatha’ al-Dimyati dalam kitab kuningnya I’ânah al-Thâlibîn mendefinisikan jihad sebagai aksi menolak marabahaya dan kekacauan serta berjihad untuk kemakmuran dan kesejahteraan: sandang dan pangan (daf`u dlararin ma’shûmin min muslimin jâ’i`in aw `ârin wa nahwihimâ). Jika mau konsisten, perang malah diperbolehkan oleh al-Quran untuk melawan “fitnah”: perangilah mereka sampai tiada lagi (timbul) fitnah wa qâtilûhum hattâ lâ takûna fitnah (QS al-Baqarah: 193).
    Fitnah di sini menurut mayoritas ulama tafsir bermakna segala kekacauan akibat, pengusiran, perampasan, dan pembunuhan. Kekacauan yang menebarkan ketakutan dan rasa tidak aman. Fitnah adalah terorisme. Jihad melawan terorisme berarti jihad melawan kekacauan yang berakar pada “fitnah” tadi.

    Sementara ulama adalah artikulator, penafsir lidah agama, namun bukan berarti seperti Si Pahit Lidah, yang kerjanya, cuma mengumbar kebencian, dan kutukan. Karena agama bukan ancaman dan kutukan. Tantangan terbesar bagi ulama untuk, tidak hanya dituntut menjalankan agamanya secara benar, tapi juga menjaga agar agamanya tidak di gunakan menjadi alat untuk membunuh. Wallahu a’lam.

    B. Medium Ekspresi Jihad Bagi Individu Dan Kelompok Muslim
    Anggapan bahwa jihad dalam islam selalu identik dengan kekerasan, penghancuran, dan bahkan penghilangan nyawa seseorang yang di anggap tidak islami atau tidak sepaham dengannya,itu adalah keliru total.Memang banyak orang memahami konsep jihad yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, boleh jadi tulisan ini pun berbeda pengertiannya dengan kebanyakan orang yang telah punya penafsiran tersendiri tentang arti dari jihad.
    Doktrin jihad memang sudah ada dalam sejarah islam, meski sekarang jadi pertanyaan kenapa jihad identik dengan terorisme, artinya pengaitan jihad dengan terorisme adalah sessuatu yang baru muncul kemudian, sesuatu yang kontemporer.
    Yang patut kita renungkan di sini, sebenarnya islam di turunkan Tuhan ke alam ini tiada lain adalah penyempurna etika manusia atau membangun manusia yang bermoral, sehingga keberadaan islam adalah untuk membentuk tatanan kehidupan manusia yang harmonis, damai dan sejahtera. Nilai-nilai inilah yang menjadikan islam sebagai agama yang bersifat universal dan inklusif.

    C. Hukum Jihad Di Negara Kesatuan Republik Indonesia
    Dan UU No 16/2003 yang berisi: terorisme didefinisikan sebagai perbuatan yang merupakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional. Dari definisi mengenai terorisme itu dapat disimpulkan, terorisme adalah kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan (extraordinary crime against humanity).
    Tetapi undang – undang tersebut mendapat keputusan baru dari Mahkamah Konstitusi yang membatalkan UU No 16 Tahun 2003 tentang Penerapan Perpu No 2/2002 tentang Perpu No 1/2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Peledakan Bom Bali 12 Oktober 2002 merupakan sebuah keputusan hukum yang dihasilkan melalui pertimbangan hukum yang murni dan bersifat final serta mengikat.
    Hal itu merupakan keputusan dari sembilan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang di pimpin Jimly Ashidiqie, sehingga putusan Mahkamah Konstitusi itu patut dihormati dan dipatuhi dalam pelaksanaan hukum selanjutnya. Tetapi, kita tidak dapat menolak potensi timbulnya implikasi yang harus dihadapi Indonesia berkait dengan pembatalan UU No 16/2003 itu. Implikasi-implikasi itu dapat berupa implikasi politik dan hukum, baik yang berpengaruh terhadap kondisi di dalam negeri maupun reaksi dari luar negeri.
    Jika melihat pada Putusan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan pembatalan UU No 16/2003, persoalan yang menjadi dasar pembatalan undang-undang itu adalah pada penerapan asas retroaktif dalam UU No 16/2003. Sebenarnya konstitusi Indonesia tidak memperbolehkan diterapkannya asas retroaktif dalam perundang-undangan, tetapi pemerintah menganggap kasus bom Bali sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) sehingga harus dihadapi secara luar biasa juga dengan pemberlakuan undang-undang yang bersifat retroaktif. Indonesia sekarang hanya memiliki UU No 15/2003 tentang Terorisme.

    Hal ini dapat di ambil pelajaran, bahwa sistem perundangan di Indonesia harus terstruktur rapi dan sistematis, jangan sampai tumpang tindih dengan peraturan perundang-undangan lainnya. Bangsa Indonesia juga harus siap saat menghadapi aneka konsekuensi serta implikasi dari suatu putusan pengadilan yang mungkin dianggap kontroversial. Apa pun putusan Mahkamah Konstitusi harus dihormati dan dipatuhi bangsa Indonesia dengan segala implikasi yang mungkin akan timbul karenanya.

    D. Sarana Yang Efektif Dalam Jihad Bagi Warga Negara Indonesia
    Perlu ditegaskan, pertama, jika negara bangsa ini lahir dari perjuangan kebangsaan yang tidak memperhitungkan kelompok, entah Islam, Nasrani, Cina, dll. Mereka sama-sama mengorbankan nyawa untuk semangat anti penjajahan. Dalam satu musuh kita bersatu dalam derap perjuangan, sehingga konsepsi Pancasila yang tidak akan pernah meminggirkan kelompok minoritas.
    Kedua, apa yang telah dilakukan kelompok-kelompok radiakal itu bukan jihad, pasti bukan jihad sebagaimana yang dimaksud al-Qur’an dan Sunnah. Mereka merupakan interpretator-interpretator salah kaprah untuk al-Qur’an dan Sunnah. Karena jihad yang dimaksud adalah melawan kaum kafir yang memerangi (dzimmi) sementara penduduk non muslim bangsa ini tidak memerangi umat Islam (ghoiru dzimmi).
    Ketiga, benih-benih radikalisme tidak lahir dari al-Qur’an dan Sunnah tetapi muncul dari pandangan yang sempit tentang Pan-Islamisme. Padahal Pan-Islamisme terbukti gagal dalam sejarahnya. hancur berantakan. Radikalisme memang tidak akan pernah mati karena ia tidak bernyawa dan berada dalam sumsum para interpretator keliru kelompok Islam yang mengaku berjihad, Mereka pastilah tidak menelusuri jauh karya-karya ulama salaf tentang jihad dan atau tidak mampu memahami bagaimana negara ini telah berdiri kokoh dalam ideologinya. Negara ini negara sekuler, bukan negara Islam, karena itu gagasan syariat Islam (pemerintahan islam ) merupakan gagasan pemecah belah Pancasila.
    Jadi untuk mengepresikan jihad untuk warga Negara Indonesia ini adalah bagaimana menjaga kesatuan republik Indonesia dengan jalan meningkatkan sumber daya manusia ,mutu pendidikan ,perekonomian dan lain-lain.

    E. Musuh Dan Target Sebuah Jihad
    Jika benar mau berjuang untuk syiar Islam, betapa tak terhingganya umat islam negeri ini yang melarat, jadi maling motor ,HP, koruptor kecil-kecilan atau yang besar-besaran, tengkulak, germo, preman, dsb. itu saja jadi bagian obyek perjuangan bukan negara dan bangsa ini.
    Pertama, lihatlah makna teror secara menyeluruh. Jangan-jangan melakukan peperangan terhadap teror yang berakibat kepada tindakan terror yang sama, walau dalam bentuk yang berbeda. Teror militer misalnya jangan menjadikan kita lupa terhadap teror ekonomi. Teror fisik jangan menjadikan kita buta terhadap teror iman dan moral. Jika gagal melihat teror dalam perspektif ini, maka akan terjadi teror melawan teror. Pada akhirnya kita akan bingung, siapa yang sebenarnya teroris itu?
    Kedua, bahwa teror itu telah melampaui semua batas. Olehnya kita perlu berhati-hati, jangan sampai melihat bahwa teroris itu terbatas pada orang atau kelompok tertentu. Dan ini dapat dilhat pada fenomena terakhir, di mana ekspresi kemarahan tetumpah di mana saja, termasuk di Brazil, Prancis, dan kini di Korea.
    Jadi musuh atau target dalam jihad yang sebenarnya adalah diri nya sendiri (hawa nafsu),kebodohan,sampai kepada musuh yang mengancam islam,inilah target sebenarnya dari sebuah jihad yang suci bukan orang –orang yang tidak berdosa.

    F. Hubungan Terorisme Dengan Jihad Islam
    Oleh karena itu doktrin jihad, sebagaimana yang diungkap dalam kitab-kitab kuning, tidak ada sangkut pautnya dengan terorisme. Terorisme muncul ketika nujuman “benturan peradaban” (clash of civilations) menghendaki adanya pihak lain yang menghendaki adanya benturan ditingkat riil, sebagaimana yang sering kita lihat dalam aksi-aksi teror selama ini.

    Bicara jihad sepertinya tak akan pernah kering untuk di diskusikan, terlebih bila dikaitkan dengan pergumulan cara pandang di kalangan muslim sendiri maupun di luar muslim dalam memahami substansi ajaran islam.Kata jihad seolah dipahami angker,kekerasan, sarat dengan pemahaman serba fisik dan sikap-sikap insinuatif. Jihad dalam Alquran sebanyak 41 kali. Tema jihad itu berasal dari kata kerja jahada, berarti usaha, upaya. Maka membicarakan jihad berarti membicarakan juga asal mula dari kata jihad, yaitu ijtihad dan mujahadah. Baik jihad, ijtihad maupun mujahadah berasal dari satu kata bermakna keseriusan dan kesungguh-sungguhan.
    Jadi, berjihad, adalah membangun atau mengupayakan sesuatu yang sifatnya fisik maupun non fisik. Sedangkan ijtihad, berarti usaha membangun sisi intelektualitas manusia seperti ijtihad para ulama’ dalam menetapkan suatu hukum yang tidak terdapat dalam Alquran maupuj sunnah nabi. Sementara mujahadah berarti upaya sungguh-sungguh membangun spiritualiatas manusia.
    Dalam perkembangannya kemudian, jihad mengarah pada pengertian tertentu yang menekankan sesuatu yang sifatnya fisisk atau material, sedangkan ijtihad maupun mujahadah penekannya lebih kepada non-fisik atau immaterial. Sebenarnya dari ketiga kata itu menurut nabi kita, mujahadahlah yang menempati urutan tertinggi, karena selain bersifat privacy (mengahadapi diri sendiri seperti hawa nafsu), juga mengharuskan tingkat dan waktu perjuangan secara kontinu sepanjang hayat.
    Jihad, tidak bisa didefinisikan sekedar berperang. Pemahaman tersebut telah melakukan pengerdilan terhadap ajaran jihad yang agung. Menurut seorang ulama kharismatik Syriah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadlan Al-Buthi, dalam bukunya al-Jihad fi al-Islam jika jihad diidentikkan sebagai perang, maka ajaran jihad akan kehilangan makna yang sebenarnya dan segala macam-macamnya.
    Terorisme memiliki dua sisi yang tidak bisa dipisahkan dari aksi dan ideologi. Drama teror ini menampilkan dua tokoh: aktor sebagai eksekutor aksi teror dan aktor intelektual yang membangun basis ideologi teror.
    Ideologi teror tersebut ditanam oleh aktor-aktor intelektual yang sangat mahir memainkan ayat-ayat Tuhan untuk menggiring pemuda-pemuda tak berdosa sebagai pelaku terorisme.
    Seorang teroris dipastikan memiliki guru, dan balai pendidikan yang membentuk jiwa, pikiran, dan menunjukkan jalan terorisme itu. Teror adalah tindakan kekerasan baik secara fisik maupun non fisik terhadap civilian. Artinya semua bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, apakah itu secara individu maupun kolektif dengan target maka dikategorikan tindakan teroris atau teror.
    Oleh karenanya, teroris bisa berbangsa Arab, Persia, Pakistan, India, China, Afrika, Prancis, Inggris, maupun Amerika. Teroris bisa beragama Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, atau pun Yahudi.
    Sederhananya, teroris-teroris itu adalah korban dari manusia yang disebut ulama tidak bertanggungjawab itu. Anehnya, ulama-ulama kharismatik itu hanya berani membakar kemarahan dan kebencian umat, tanpa memiliki keberanian berada di garis terdepan dengan membawa bom. Jangankan meledakkan dirinya, anak-anaknya pun tidak diajari untuk menjadi teroris dan melakukan pembunuhan. Mereka cukup mempengaruhi santri, tetangga, dan orang lain untuk melakukan aksi-aksi kekerasan.
    Maka dari itu, seorang ulama memiliki peran vital terhadap terorisme. Peran itu dimulai, bagaimana mereka meracik dan menyuguhkan agama ada umat. Jika mereka menyuguhkan agama sebagai ajaran kebencian dan kekerasan, maka, agama akan menjadi kekuatan terorisme maha dahsyat.
    Agar tetap menarik dan laku, agama dikemas dan dipromosikan melalui pengajian, khutbah, pengkaderan, dan diiming-imingi janji-janji: mati syahid, kenikmatan kehidupan sorgawi dan menikahi bidadari. tidak sedikit dari ulama-ulama itu menjadi aktor intelektual dan mendukung terorisme.
    Namun jika ulama konsisten mengemas dan menyuguhkan agama sebagai ajaran perdamaian, kerukunan, dan antikekerasan, maka, terorisme dan aksi-aksi kekerasan itu akan dianggap berlawan dengan ajaran agama itu sendiri.
    Kesimpulannya adalah , jihad yang di ajarkan dalam agama islam dapat di kelompokkan menjadi beberapa bagian diantaranya mengenai diri sendiri (yaitu melawan kemauan hawa nafsu) ,mengenai Negara (berjuang bersama-sama walaupun beda agama dan kepercayaan demi menjaga kesatuan dan kemerdekaan bangsa),berjuang melawan tindak kekerasan (amar ma’ruf nahi mungkar).jadi dapat di katakan bahwa islam itu bukan terorisme,jihad itu belum tentu teror,dan sudah pasti bahwa teror dan terorisme adalah sesuatu yang wajib bagi kita untuk melawan dan membumi hanguskannya.pelaku teror adalah orang yang sebenarnya tidak mempunyai agama walaupun dia seorang yang beragama,dan semua agama tidak ada yang mengajarkan untuk mengerjakan tindakan teror bahkan semua agama mengecamnya.jadi jelas bahwa teror itu adalah sebuah alat untuk menimbulkan kekacauan dan ketakutan yang pelakunya akan merasakan kenikmatan tersendiri jika masyarakat yang di teror nya mengalami ketakutani kan pelaku teror itu sedikit banyak mengalami gangguan jiwa.

    G.Perkara-Perkara Dalam Berjihad
    Ada banyak perkara yang perlu diperhatikan oleh seorang mujahid. Pertama, niat yang betul, yakni li-i‘la’i kalimatillah, bukan untuk gagah-gagahan, cari popularitas, dan tujuan duniawi lainnya. Kedua, harus dibawah komando seorang imam dan setelah ada deklarasi perang. Ketiga, harus seizin kedua orangtua. Keempat, harus banyak berzikir, berdoa dan bersabar. Kelima, harus memberi kesempatan terakhir kepada musuh sebelum berperang dengan mengajak mereka masuk Islam atau membayar jizyah. Keenam, dilarang membunuh kaum wanita, anak-anak, dan orang-orang lanjut usia. Ketujuh, tidak boleh merusak lingkungan hidup, rumah-rumah ibadah dan fasilitas umum.
    Berjihad merupakan fardhu kifayah. Artinya, tidak perlu semuanya pergi ke medan perang. Harus ada juga yang ditugaskan membangun Umat di sektor-sektor lain, terutama pendidikan (QS 9:122). Jihad bisa menjadi fardhu ayn apabila kampung halaman kita diserang dan diduduki musuh (seperti terjadi pada zaman kolonial dahulu, sekarang, maupun yang akan datang).
    Namun demikian, terdapat puluhan ayat al-Qur’an dan hadits Nabi SAW yang menerangkan keutamaan jihad dan penghargaan yang akan diperoleh oleh seorang mujahid, apalagi untuk mereka yang gugur sebagai syuhada’.
    Dalam konteks Indonesia dan negara-negara Muslim lainnya dewasa ini, dimana Islam belum secara total direalisasikan, para tokoh gerakan Islam umumnya berpendapat bahwa agenda utama yang mesti didahulukan saat ini adalah membina individu dan organisasi Muslim serta membangun kekuatan Umat pada semua lini.
    Dengan kata lain, belum tiba masanya bagi orang Islam sekarang ini untuk melakukan konfrontasi militer melainkan dalam kasus-kasus yang kita semua ketahui.
    Pendekatan Di Dalam Memahami Agama

    MAKALAH
    Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

    PSI / MSI

    oleh :

    Bahtiar Rifa’i : D01304092
    Mutik Ullah : D01303073
    Zakiyyah Miskiyah :

    Dosen Pembimbing :

    Drs. Muhlisin,S.Ag

    FAKULTAS TARBIYAH
    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
    SUNAN AMPEL
    SURABAYA
    2007

    A. Islam Dan Sasaran Pendekatan Studi Agama
    Telah kita ketahui bahwa agama adalah seperangkat pengetahuan,kepercayaan,peribadatan,tindakan-tindakan dan pengamalan keagamaan berkenaan dengan tuhan yang maha suci.
    Secara teoritis islam adalah agama yang ajaran – ajaran nya di wahyukan tuhan kepada manusia melalui Muhammad sebagai rasul. Islam pada hakikat nya membawa ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi , tetapi mengenai beberapa segi dari kehidupan manusia .
    Sumber ajaran yang mengambil berbagai aspek ialah al-qur’an dan hadis.sumber-sumber ajaran islam yang merupakan bagian pilar penting kajian islam di munculkan agar di kursuskan dan paradigma keislaman tidak keluar dari sumber asli ,yaitu Al- Qur’an dan Hadis.
    Kedua sumber ini menjadi pijakan dan pegangan dalam mengakses wacana pemikiran dan membumi praktik penghambaan kepada tuhan,baik yang bersifat teologis maupun humanis.

    B. Pendekatan Teologi Normatif
    Pendekatan melalui melalui teologi berangkat dari kepercayaan terhadap kebenaran dogma atau informasi al-qur’an terutama tentang masalah ketuhanan dan kemudian menggunakan akal sebagai alat untuk membuktikan kebenaran informasi al-qur’an tersebut atau dalam ungkapan lain di kenal dengan pendekatan tekstual dan rasional.
    Pendekatan teologi dalam memahami agama menggunakan cara berfikir deduktif yakni cara berfikir yang berawal dari kepercayaan yang di yakini benar dan mutlak adanya karena ajaran yang berasal dari tuhan sehingga tidak perlu di pertanyakan terlebih dahulu melainkan di mulai dari keyakinan berikut juga di perkuat dengan dalil-dalil serta argumentasi.
    Pendekatan ini mempunyai beberapa kekurangan seperti bersifat eksklusif ,dogmatis,tidak mau mengakui kebenaran yang berada di luar kelompoknya ,sedangkan kelebihan metode ini adalah seseorang akan memiliki sikap militan dalam beragama yaitu memegang teguh agama nya yang di yakini satu-satunya yang benar.

    C. Pendekatan Filologi
    Meneliti agama memang tidak dapat di pisahkan dari aspek bahasa (philology),karena manusia adalah makhluk berbahasa sedangkan doktrin agama di pahami,di hayati dan di sosialisasikan melalui bahasa.
    Penelitian agama dengan menggunakan pendekatan filologi dapat di bagi dalam tiga pendekatan.perlu di tekankan di sini bahwa ketiga pendekatan di maksudkan tidak terpisah secara ekstrem ,pendekatan bisa over lapping ,saling melengkapi atau bahkan dalam sudut pandang tertentu sama.ketiga pendekatan tersebut adalah :
    1. Pendekatan filologi terhadap al- qur’an
    Pendekatan filologi terhadap al- qur’an adalah metode tafsir yang merupakan metode tertua dalam pengkajian agama.sesuai dengan namanya ,tafsir berarti menjelaskan,pehaman,perincian atas kitab suci sehinggan isi pesan kitab suci dapat di pahami sebagaimana yang di kehendaki oleh tuhan.
    Adapun metode penafsiran yang berkembang dalam tradisi intelektual islam dan cukup popular adalah :
    a. metode tafsir tahlil
    yaitu metode mentafsirkan qur’an dengan cara menguraikan secara detail kata demi kata ,ayat demi ayat ,surat demi surat dari awal hingga akhir.
    b. metode tafsir ijmali
    Yaitu mentafsirkan ayat –ayat dalam kitab suci dengan cara menunjukkan kandungan makna kitab suci secara global dan penjelasannya pun biasanya secara global pula.
    c. metode tafsir muqaran
    Yaitu dengan cara membandingkan ayat al- qur’an dengan ayat lainnya yang memiliki kemiripan redaksi baik dalam kasus yang sama maupun yang beda atau bisa juga seperti qur’an dengan hadis,hadis dengan hadis atau dengan pendapat ulama’tafsir.
    d. metode tafsir mawdzu
    Yaitu di sebut juga tafsir tematik ,mentafsirkan dengan cara menghimpun ayat- ayat al-qur’an dari bebagai surat yang berkaitan dengan persoalan atau topic yang di tetapkan sebelumnya atau dengan cara mengangkat gagasan dasar al-qur’an yang merespon tema-tema abadi yang menjadi keprihatinan manusia sepanjang sejarah.

    2. Pendekatan filologi terhadap hadis
    Sebagaimana al- qur’an ,hadis juga banyak di teliti oleh para ahli ,bahkan dapat di katakana penelitian terhadap hadis lebih banyak dilakukan di bandingkan dengan Al-qur’an.
    Memahami suatu hadis sebagai salah satu sumber terpenting ajaran islam setelah al-qur’an pasti memerlukan telaah kritis ,utuh dan menyeluruh .maka kajian akan terfokus pada matan,sanad ,dan perawi dari hadis tersebut.

    3. Pendekatan filologi terhadap teks,naskah dan kitab-kitab (heurmeneutika)
    Pada mulanya pendekatan ini hanya di pahami sebagai metode untuk menafsiri teks-teks yang terdapat dalam karya sastra ,kitab suci,tetapi kemudian penggunaan heurmeneutika sebagai metode penafsiran semakin luas dan berkembang ,baik dalam cara analisis nya maupun objek kajiannya.
    Palmer mengklafisikan cabang–cabang studi heurmeneutika sebagai berikut :
    a) Interpretasi terhadap bible
    b) Interpretasi terhadap berbagai teks kesasteraan lama
    c) Interpretasi terhadap penggunaan dan pengembangan bahasa
    d) Interpretasi terhadap suatu studi tengtang proses pemahamannya itu sendiri
    e) Interpretasi terhadap pemahaman di balik makna –makna dari setiap system symbol
    f) Interpretasi terhadap pribadi manusia beserta tindakan-tindakan social nya.
    Metode heurmeneutika mempunyai fungsi agar tidak terjadi distorsi pesan atau informasi antara teks,naskah,kitab,penulis,pembaca nya. Karena itu untuk memperoleh pemaknaan yang lebih konfrehensif harus di perhatikan gaya bahasa ,struktur kalimat,dan juga budaya.

    D. Pendekatan Studi Hukum /fiqh
    Fiqh adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang bersifat amaliyah yang di hasilkan dari dalil-dalil yang terperinci.
    Pendekatan ini di lakukan untuk memperhatikan kemaslahatan umat di mana hukum itu di berlakukan ,sehingga hukum tersebut betul-betul menjadi keyakinannya. Bicara hukum islam berarti membicarakan perintah dan larangan dari Allah ataupun dari rasul-NYA.
    Di dalam Al-qur’an banyak sekali hukum-hukum diantaranya ada yang menunjukkan hukum secara jelas dan pasti (qath’iy) yang tidak membutuhkan penjelasan dan pula hokum yang tidak jelas (dhanny) yang banyak membutuhkan penjelasan dan pengembangan pikiran yang biasa di sebut dengan ijtihad. Hukum islam dapat di lihat dari beberapa aspek yaitu :

    a) Aspek ibadah (pengabdian kepada tuhan)
    • sholat
    • puasa
    • zakat
    • haji
    b) Aspek mu’amalah (sosial)
    • jinayat
    • pernikahan
    • politik

    E. Pendekatan Antropologis
    Menurut geertz untuk memahami agama sebagai suatu system yang terdiri atas berbagai symbol yang memberikan arti ,maka agama berarti :
    • Suatu symbol yang bergerak dan bertindak ,untuk;
    • Menetapkan dorongan hati dan motivasi yang kuat ,menembus dan bertahan lama pada manusia.
    • Dengan cara memformulasikan berbagai konsep tentang suatu tatanan umum dari yang hidup,dan;
    • Mewarnai konsep – konsep dengan aura faktualitas sehingga dorongan hati dan motivasi akan tampakalistik.
    Jadi agama di artikan sebagai suatu system symbol,symbol-simbol yang ada kemudian bersatu menjadi suatu budaya yang akan membentuk sebuah pola.
    Pendekatan ini di gunakan untuk memahami perilaku yang tidak dapat di ukur secara kuantitatif yaitu, untuk memahami perilaku manusia yang beragama secara kualitatif .

    F. Pendekatan Sosiologis
    Agama adalah gejala penting dalam kehidupan masyarakat . Pendekatan ini di gunakan untuk memahami perilaku yang berkaitan dengan hubungan antar manusia,kelompok.
    Sosiologi harus di kaitkan dengan segala sesuatu yang sudah berada pada tingkat yang masuk akal ,di lihat sebagai kenyataan social karena suatu konsep yang tidak di dasari dengan pemahaman sosiologis akan menimbulkan ketidak jelasan .
    Adapun sosiologi agama adalah suatu bagian integral dan bahkan sentral dari sosiologi . tugas yang paling penting adalah untuk menganalisa unsur-unsur normatif dan kognitif di mana suatu permasalahan yang di nyatakan secara social yang sudah di maklumi.

    G. Pendekatan Filosofis
    Filsafat berarti berfikir secara mendalam ,sistematis,radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran ,inti,hakikat pada segala sesuatu yang ada.
    Pendekatan secara filosofis telah banyak di lakukan oleh para ahli,seperti yang di katakan oleh Muhammad al- jurjawi,ketika seseorang yang mengerjakan satu amal ibdah niscaya tidak terjerat dalam formalisme kering yaitu simbolisme yang hampa serta ritualisme yang kering dari nilai spiritualisme. Semakin dalam penggalian makna filosofisnya, maka akan semakin dalam pula sikap penghayatan dan daya spiritualitas yang di miliki seseorang.

    H. Pendekatan Historis
    Salah satu pendekatan yang dapat di lakukan dalam studi terhadap islam sebagai obyek ,adalah pendekatan melalui histories atau di sebut juga sejarah. islam bukan hanya sebuah doktrin agama tetapi hidup sepanjang masa bersamaan dengan perjalanan sejarah umatnya. pendekatan ini di lakukan agar dapat mengetahui seluk beluk ajaran yang di bawah nabi Muhammad saw dan bagaimana agama itu mewarnai pola hidup pengikutnya sampai pada bagaimana agama ini berinteraksi dengan manusia yang berlatar belakang berbagai etnis dan budaya.
    Kata sejarah berarti asal-usul atau kejadian yang benar-benar terjadi pada masa dahulu . jadi harus di bedakan dari dongeng ,hikayah,legenda dan sebagainya .
    Dalam pendekatan sejarah tidak hanya di lihat dari sisi luarnya saja tetapi juga harus di lihat dari sisi dalamnya juga maksudnya dalam memahami sejarah harus mencapai kebenaran dan tidak di pengaruhi oleh sikap memihak kepada pendapat tertentu jadi harus dengan qaidah –qaidah yang berlaku.

    I. Pendekatan Psikologis
    Pendekatan melalui psikologis merupakan salah satu pendekatan yang di lakukan dalam islam.
    Agama jika di pahami melalui pemikiran walaupun agama yang paling suci sekalipun tetap di dasari secara psikologis oleh psikisme manusia yang paling elementer dan fundamental. Namun dasar ini belum menunjukkan dasar agama yang sebenarnya.
    Sikap religius baru dapat timbul secara berangsur-angsur dari pemecahan terhadap beberapa masalah , dari situ muncul suatu bentuk agama yang penuh perbedaan dan yang betul-betul personal sehingga seseorang mempunyai keyakinan religius yang matang dan mantap.
    Itu semua tidak terlepas dari psikologis dinamis yang menunjukkan bahwa tidak ada keserasian alamiah antara manusia dengan nilai-nilai yang hakiki sedemikian rupa sehingga telah ditentukan sejak semula, sebaliknya manusia harus menciptakan nilai-nilai itu dengan banyak jerih payah dan dengan terus menerus mengeritik khayalan-khayalan.
    Agama secara psikologis berarti suatu keadaan batin yang mengandung pendirian dan keyakinan terhadap seseorang ataupun sesuatu hal dan yang di ungkapkan secara lahir dalam kata-kata serta tingkah laku yang menghasilkan hubungan timbal balik antara proses –proses psikis itu sendiri yang akan mempengaruhi watak,emosi yang akan mendorongnya untuk memahami agama.

    J. Pendekatan tasawwuf
    Tasawwuf merupakan salah satu pendekatan yang di lakukan dalam agama islam untuk lebih memfokuskan perhatiannya pada dimensi esoteri yakni pembersihan aspek rohani manusia sehingga dapat menimbulkan ahlaq mulia.
    Melalui pendekatan ini seorang dapat mengetahui beberapa cara melakukan pembersihan jiwa serta mengamalkan secara benar dan dapat berinteraksi dengan orang lain dengan baik.

    Adapun di dalam pengertian tasawwuf dapat di lihat dari beberapa sudut pandang tasawwuf sendiri salah satu di antaranya adalah :
    1. Sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas.
    Dari sudut ini maka tasawwuf dapat di artikan sebagai upaya penyucian diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan hanya memusatkan diri kepada Allah swt.
    2. Sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang.
    Dari sudut ini maka tasawwuf dapat di artikan sebagai upaya memperindah diri dari ahlaq yang bersumber pada ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt.
    3. Sudut pandang manusia sebagai makhluk yang bertuhan.
    Dari sudut ini maka tasawwuf dapat di artikan sebagai upaya untuk mencapai kesadaran fitrah,percaya kepada Allah yang dapat mengarahkan jiwa agar selalu tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Allah swt.

    K. Pendekatan Kebudayaan
    Pendekatan melalui kebudayaan di lakukan dengan penggunaan cara-cara penelitian yang di atur oleh aturan-aturan kebudayaan yang bersangkutan.
    Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang di punyai oleh manusia sebagai makhluk social yang isinya adalah perangkat model-model pengetahuan yang secara selektif dapat di gunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang di hadapi dan untuk mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang di perlukan.
    Oleh karena itu bidang-bidang pengetahuan keahlian utama yang di dasarkan atas studi budaya adalah meliputitheology,filsafat,hukum,filologi dan lain-lain.
    Ajaran islam bersifat doktriner dan normative ,akan tetapi tidak berarti bersifat kaku,tertutup dan tidak mau menerima perubahan. Dalam aplikasinya terdapat peluang ijtihad untuk menyesuaikan dengan keadaan situasi dan kondisi.
    Agama sebagai budaya juga dapat di lihat sebagai mekanisme control, karena agama adalah pranata social dan gejala sosial yang berfungsi sebagai control terhadap institusi-institusi yang ada.
    Dalam islam mengenai kebudayaan ,umat islam berpegang pada qaidah ‘memelihara pada produk budaya lama yang baik dan mengambil produk budaya baru yang lebih baik pula.
    Dalam islam banyak terdapat macam-macam kebudayaan ,seperti tata cara dalam memilih pendamping hidup diantaranya adalah bahwa yang paling tepat sebagai pendamping hidup adalah yang paling beragama,kemudian acara pernikahan di bacakan syahadat ,ketika melahirkan si anak di dengarkan kumandang adzan dan juga pada acara aqiqah, itu semua adalah sebagian dari kebudayaan islam dimana pada setiap acara di selimuti dengan nuansa keagamaan.

    L. Daftar Pustaka

     Drs .H.As’ari.Ahm Dan kawan-kawan,Pengantar Studi Islam,IAIN Sunan Ampel Press,Surabaya,2002.
     Tibi Bassam,Islam Kebudayaan Dan Perubahan Sosial,Tiara Wacana,Yogyakarta,1999.
     Roland Robertson ED,Agama Dalam Analisa Dan Interpretasi Sosiologis,Raja Grafindo,Jakarta,1995.
     Dr.Nico Syukur Dister,Psikologi Agama,Kanasius,Yogyakarta,1989

  4. Pendekatan Di Dalam Memahami Agama

    MAKALAH
    Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

    PSI / MSI

    oleh :

    Bahtiar Rifa’i : D01304092
    Mutik Ullah : D01303073
    Zakiyyah Miskiyah :

    Dosen Pembimbing :

    Drs. Muhlisin,S.Ag

    FAKULTAS TARBIYAH
    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
    SUNAN AMPEL
    SURABAYA
    2007

    A. Islam Dan Sasaran Pendekatan Studi Agama
    Telah kita ketahui bahwa agama adalah seperangkat pengetahuan,kepercayaan,peribadatan,tindakan-tindakan dan pengamalan keagamaan berkenaan dengan tuhan yang maha suci.
    Secara teoritis islam adalah agama yang ajaran – ajaran nya di wahyukan tuhan kepada manusia melalui Muhammad sebagai rasul. Islam pada hakikat nya membawa ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi , tetapi mengenai beberapa segi dari kehidupan manusia .
    Sumber ajaran yang mengambil berbagai aspek ialah al-qur’an dan hadis.sumber-sumber ajaran islam yang merupakan bagian pilar penting kajian islam di munculkan agar di kursuskan dan paradigma keislaman tidak keluar dari sumber asli ,yaitu Al- Qur’an dan Hadis.
    Kedua sumber ini menjadi pijakan dan pegangan dalam mengakses wacana pemikiran dan membumi praktik penghambaan kepada tuhan,baik yang bersifat teologis maupun humanis.

    B. Pendekatan Teologi Normatif
    Pendekatan melalui melalui teologi berangkat dari kepercayaan terhadap kebenaran dogma atau informasi al-qur’an terutama tentang masalah ketuhanan dan kemudian menggunakan akal sebagai alat untuk membuktikan kebenaran informasi al-qur’an tersebut atau dalam ungkapan lain di kenal dengan pendekatan tekstual dan rasional.
    Pendekatan teologi dalam memahami agama menggunakan cara berfikir deduktif yakni cara berfikir yang berawal dari kepercayaan yang di yakini benar dan mutlak adanya karena ajaran yang berasal dari tuhan sehingga tidak perlu di pertanyakan terlebih dahulu melainkan di mulai dari keyakinan berikut juga di perkuat dengan dalil-dalil serta argumentasi.
    Pendekatan ini mempunyai beberapa kekurangan seperti bersifat eksklusif ,dogmatis,tidak mau mengakui kebenaran yang berada di luar kelompoknya ,sedangkan kelebihan metode ini adalah seseorang akan memiliki sikap militan dalam beragama yaitu memegang teguh agama nya yang di yakini satu-satunya yang benar.

    C. Pendekatan Filologi
    Meneliti agama memang tidak dapat di pisahkan dari aspek bahasa (philology),karena manusia adalah makhluk berbahasa sedangkan doktrin agama di pahami,di hayati dan di sosialisasikan melalui bahasa.
    Penelitian agama dengan menggunakan pendekatan filologi dapat di bagi dalam tiga pendekatan.perlu di tekankan di sini bahwa ketiga pendekatan di maksudkan tidak terpisah secara ekstrem ,pendekatan bisa over lapping ,saling melengkapi atau bahkan dalam sudut pandang tertentu sama.ketiga pendekatan tersebut adalah :
    1. Pendekatan filologi terhadap al- qur’an
    Pendekatan filologi terhadap al- qur’an adalah metode tafsir yang merupakan metode tertua dalam pengkajian agama.sesuai dengan namanya ,tafsir berarti menjelaskan,pehaman,perincian atas kitab suci sehinggan isi pesan kitab suci dapat di pahami sebagaimana yang di kehendaki oleh tuhan.
    Adapun metode penafsiran yang berkembang dalam tradisi intelektual islam dan cukup popular adalah :
    a. metode tafsir tahlil
    yaitu metode mentafsirkan qur’an dengan cara menguraikan secara detail kata demi kata ,ayat demi ayat ,surat demi surat dari awal hingga akhir.
    b. metode tafsir ijmali
    Yaitu mentafsirkan ayat –ayat dalam kitab suci dengan cara menunjukkan kandungan makna kitab suci secara global dan penjelasannya pun biasanya secara global pula.
    c. metode tafsir muqaran
    Yaitu dengan cara membandingkan ayat al- qur’an dengan ayat lainnya yang memiliki kemiripan redaksi baik dalam kasus yang sama maupun yang beda atau bisa juga seperti qur’an dengan hadis,hadis dengan hadis atau dengan pendapat ulama’tafsir.
    d. metode tafsir mawdzu
    Yaitu di sebut juga tafsir tematik ,mentafsirkan dengan cara menghimpun ayat- ayat al-qur’an dari bebagai surat yang berkaitan dengan persoalan atau topic yang di tetapkan sebelumnya atau dengan cara mengangkat gagasan dasar al-qur’an yang merespon tema-tema abadi yang menjadi keprihatinan manusia sepanjang sejarah.

    2. Pendekatan filologi terhadap hadis
    Sebagaimana al- qur’an ,hadis juga banyak di teliti oleh para ahli ,bahkan dapat di katakana penelitian terhadap hadis lebih banyak dilakukan di bandingkan dengan Al-qur’an.
    Memahami suatu hadis sebagai salah satu sumber terpenting ajaran islam setelah al-qur’an pasti memerlukan telaah kritis ,utuh dan menyeluruh .maka kajian akan terfokus pada matan,sanad ,dan perawi dari hadis tersebut.

    3. Pendekatan filologi terhadap teks,naskah dan kitab-kitab (heurmeneutika)
    Pada mulanya pendekatan ini hanya di pahami sebagai metode untuk menafsiri teks-teks yang terdapat dalam karya sastra ,kitab suci,tetapi kemudian penggunaan heurmeneutika sebagai metode penafsiran semakin luas dan berkembang ,baik dalam cara analisis nya maupun objek kajiannya.
    Palmer mengklafisikan cabang–cabang studi heurmeneutika sebagai berikut :
    a) Interpretasi terhadap bible
    b) Interpretasi terhadap berbagai teks kesasteraan lama
    c) Interpretasi terhadap penggunaan dan pengembangan bahasa
    d) Interpretasi terhadap suatu studi tengtang proses pemahamannya itu sendiri
    e) Interpretasi terhadap pemahaman di balik makna –makna dari setiap system symbol
    f) Interpretasi terhadap pribadi manusia beserta tindakan-tindakan social nya.
    Metode heurmeneutika mempunyai fungsi agar tidak terjadi distorsi pesan atau informasi antara teks,naskah,kitab,penulis,pembaca nya. Karena itu untuk memperoleh pemaknaan yang lebih konfrehensif harus di perhatikan gaya bahasa ,struktur kalimat,dan juga budaya.

    D. Pendekatan Studi Hukum /fiqh
    Fiqh adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang bersifat amaliyah yang di hasilkan dari dalil-dalil yang terperinci.
    Pendekatan ini di lakukan untuk memperhatikan kemaslahatan umat di mana hukum itu di berlakukan ,sehingga hukum tersebut betul-betul menjadi keyakinannya. Bicara hukum islam berarti membicarakan perintah dan larangan dari Allah ataupun dari rasul-NYA.
    Di dalam Al-qur’an banyak sekali hukum-hukum diantaranya ada yang menunjukkan hukum secara jelas dan pasti (qath’iy) yang tidak membutuhkan penjelasan dan pula hokum yang tidak jelas (dhanny) yang banyak membutuhkan penjelasan dan pengembangan pikiran yang biasa di sebut dengan ijtihad. Hukum islam dapat di lihat dari beberapa aspek yaitu :

    a) Aspek ibadah (pengabdian kepada tuhan)
    • sholat
    • puasa
    • zakat
    • haji
    b) Aspek mu’amalah (sosial)
    • jinayat
    • pernikahan
    • politik

    E. Pendekatan Antropologis
    Menurut geertz untuk memahami agama sebagai suatu system yang terdiri atas berbagai symbol yang memberikan arti ,maka agama berarti :
    • Suatu symbol yang bergerak dan bertindak ,untuk;
    • Menetapkan dorongan hati dan motivasi yang kuat ,menembus dan bertahan lama pada manusia.
    • Dengan cara memformulasikan berbagai konsep tentang suatu tatanan umum dari yang hidup,dan;
    • Mewarnai konsep – konsep dengan aura faktualitas sehingga dorongan hati dan motivasi akan tampakalistik.
    Jadi agama di artikan sebagai suatu system symbol,symbol-simbol yang ada kemudian bersatu menjadi suatu budaya yang akan membentuk sebuah pola.
    Pendekatan ini di gunakan untuk memahami perilaku yang tidak dapat di ukur secara kuantitatif yaitu, untuk memahami perilaku manusia yang beragama secara kualitatif .

    F. Pendekatan Sosiologis
    Agama adalah gejala penting dalam kehidupan masyarakat . Pendekatan ini di gunakan untuk memahami perilaku yang berkaitan dengan hubungan antar manusia,kelompok.
    Sosiologi harus di kaitkan dengan segala sesuatu yang sudah berada pada tingkat yang masuk akal ,di lihat sebagai kenyataan social karena suatu konsep yang tidak di dasari dengan pemahaman sosiologis akan menimbulkan ketidak jelasan .
    Adapun sosiologi agama adalah suatu bagian integral dan bahkan sentral dari sosiologi . tugas yang paling penting adalah untuk menganalisa unsur-unsur normatif dan kognitif di mana suatu permasalahan yang di nyatakan secara social yang sudah di maklumi.

    G. Pendekatan Filosofis
    Filsafat berarti berfikir secara mendalam ,sistematis,radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran ,inti,hakikat pada segala sesuatu yang ada.
    Pendekatan secara filosofis telah banyak di lakukan oleh para ahli,seperti yang di katakan oleh Muhammad al- jurjawi,ketika seseorang yang mengerjakan satu amal ibdah niscaya tidak terjerat dalam formalisme kering yaitu simbolisme yang hampa serta ritualisme yang kering dari nilai spiritualisme. Semakin dalam penggalian makna filosofisnya, maka akan semakin dalam pula sikap penghayatan dan daya spiritualitas yang di miliki seseorang.

    H. Pendekatan Historis
    Salah satu pendekatan yang dapat di lakukan dalam studi terhadap islam sebagai obyek ,adalah pendekatan melalui histories atau di sebut juga sejarah. islam bukan hanya sebuah doktrin agama tetapi hidup sepanjang masa bersamaan dengan perjalanan sejarah umatnya. pendekatan ini di lakukan agar dapat mengetahui seluk beluk ajaran yang di bawah nabi Muhammad saw dan bagaimana agama itu mewarnai pola hidup pengikutnya sampai pada bagaimana agama ini berinteraksi dengan manusia yang berlatar belakang berbagai etnis dan budaya.
    Kata sejarah berarti asal-usul atau kejadian yang benar-benar terjadi pada masa dahulu . jadi harus di bedakan dari dongeng ,hikayah,legenda dan sebagainya .
    Dalam pendekatan sejarah tidak hanya di lihat dari sisi luarnya saja tetapi juga harus di lihat dari sisi dalamnya juga maksudnya dalam memahami sejarah harus mencapai kebenaran dan tidak di pengaruhi oleh sikap memihak kepada pendapat tertentu jadi harus dengan qaidah –qaidah yang berlaku.

    I. Pendekatan Psikologis
    Pendekatan melalui psikologis merupakan salah satu pendekatan yang di lakukan dalam islam.
    Agama jika di pahami melalui pemikiran walaupun agama yang paling suci sekalipun tetap di dasari secara psikologis oleh psikisme manusia yang paling elementer dan fundamental. Namun dasar ini belum menunjukkan dasar agama yang sebenarnya.
    Sikap religius baru dapat timbul secara berangsur-angsur dari pemecahan terhadap beberapa masalah , dari situ muncul suatu bentuk agama yang penuh perbedaan dan yang betul-betul personal sehingga seseorang mempunyai keyakinan religius yang matang dan mantap.
    Itu semua tidak terlepas dari psikologis dinamis yang menunjukkan bahwa tidak ada keserasian alamiah antara manusia dengan nilai-nilai yang hakiki sedemikian rupa sehingga telah ditentukan sejak semula, sebaliknya manusia harus menciptakan nilai-nilai itu dengan banyak jerih payah dan dengan terus menerus mengeritik khayalan-khayalan.
    Agama secara psikologis berarti suatu keadaan batin yang mengandung pendirian dan keyakinan terhadap seseorang ataupun sesuatu hal dan yang di ungkapkan secara lahir dalam kata-kata serta tingkah laku yang menghasilkan hubungan timbal balik antara proses –proses psikis itu sendiri yang akan mempengaruhi watak,emosi yang akan mendorongnya untuk memahami agama.

    J. Pendekatan tasawwuf
    Tasawwuf merupakan salah satu pendekatan yang di lakukan dalam agama islam untuk lebih memfokuskan perhatiannya pada dimensi esoteri yakni pembersihan aspek rohani manusia sehingga dapat menimbulkan ahlaq mulia.
    Melalui pendekatan ini seorang dapat mengetahui beberapa cara melakukan pembersihan jiwa serta mengamalkan secara benar dan dapat berinteraksi dengan orang lain dengan baik.

    Adapun di dalam pengertian tasawwuf dapat di lihat dari beberapa sudut pandang tasawwuf sendiri salah satu di antaranya adalah :
    1. Sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas.
    Dari sudut ini maka tasawwuf dapat di artikan sebagai upaya penyucian diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan hanya memusatkan diri kepada Allah swt.
    2. Sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang.
    Dari sudut ini maka tasawwuf dapat di artikan sebagai upaya memperindah diri dari ahlaq yang bersumber pada ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt.
    3. Sudut pandang manusia sebagai makhluk yang bertuhan.
    Dari sudut ini maka tasawwuf dapat di artikan sebagai upaya untuk mencapai kesadaran fitrah,percaya kepada Allah yang dapat mengarahkan jiwa agar selalu tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Allah swt.

    K. Pendekatan Kebudayaan
    Pendekatan melalui kebudayaan di lakukan dengan penggunaan cara-cara penelitian yang di atur oleh aturan-aturan kebudayaan yang bersangkutan.
    Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang di punyai oleh manusia sebagai makhluk social yang isinya adalah perangkat model-model pengetahuan yang secara selektif dapat di gunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang di hadapi dan untuk mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang di perlukan.
    Oleh karena itu bidang-bidang pengetahuan keahlian utama yang di dasarkan atas studi budaya adalah meliputitheology,filsafat,hukum,filologi dan lain-lain.
    Ajaran islam bersifat doktriner dan normative ,akan tetapi tidak berarti bersifat kaku,tertutup dan tidak mau menerima perubahan. Dalam aplikasinya terdapat peluang ijtihad untuk menyesuaikan dengan keadaan situasi dan kondisi.
    Agama sebagai budaya juga dapat di lihat sebagai mekanisme control, karena agama adalah pranata social dan gejala sosial yang berfungsi sebagai control terhadap institusi-institusi yang ada.
    Dalam islam mengenai kebudayaan ,umat islam berpegang pada qaidah ‘memelihara pada produk budaya lama yang baik dan mengambil produk budaya baru yang lebih baik pula.
    Dalam islam banyak terdapat macam-macam kebudayaan ,seperti tata cara dalam memilih pendamping hidup diantaranya adalah bahwa yang paling tepat sebagai pendamping hidup adalah yang paling beragama,kemudian acara pernikahan di bacakan syahadat ,ketika melahirkan si anak di dengarkan kumandang adzan dan juga pada acara aqiqah, itu semua adalah sebagian dari kebudayaan islam dimana pada setiap acara di selimuti dengan nuansa keagamaan.

    L. Daftar Pustaka

     Drs .H.As’ari.Ahm Dan kawan-kawan,Pengantar Studi Islam,IAIN Sunan Ampel Press,Surabaya,2002.
     Tibi Bassam,Islam Kebudayaan Dan Perubahan Sosial,Tiara Wacana,Yogyakarta,1999.
     Roland Robertson ED,Agama Dalam Analisa Dan Interpretasi Sosiologis,Raja Grafindo,Jakarta,1995.
     Dr.Nico Syukur Dister,Psikologi Agama,Kanasius,Yogyakarta,1989


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: